Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kawasan industri di Greater Jakarta menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tekanan global dan dinamika penyesuaian rantai pasok regional. Strategi diversifikasi produksi yang dikenal dengan pendekatan China+1 maupun China+many terus mendorong relokasi basis manufaktur ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang dinilai semakin kompetitif.
Greater Jakarta kini tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional, tetapi juga berkembang sebagai ekosistem industri paling matang di Tanah Air. Dukungan infrastruktur yang terintegrasi, mulai dari akses pelabuhan, jaringan jalan tol, hingga ketersediaan tenaga kerja menjadi daya tarik utama bagi investor, baik untuk ekspansi maupun pengembangan fasilitas baru.
Dilansir propertynbank, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan, memasuki akhir 2025, total stok kawasan industri di Greater Jakarta tercatat mencapai sekitar 15.920 hektar, dengan tambahan pasokan baru terutama di koridor Timur. Penambahan ini membuat pasar bergerak semakin selektif dan kompetitif, terlebih dalam beberapa tahun ke depan diproyeksikan akan ada gelombang suplai baru yang masuk ke pasar.
“Dari sisi kinerja, total serapan lahan industri sepanjang 2025 mencapai sekitar 318,3 hektar. Angka ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan capaian 2024, namun tetap mencerminkan permintaan yang stabil. Sektor konstruksi, khususnya heavy equipment, menjadi occupier paling aktif di penghujung tahun. Sementara secara tahunan, sektor EV-related dan manufaktur menjadi kontributor serapan terbesar,” ujar Syarifah dalam paparannya saat Online Press Conference Jakarta Property Highlights, Retail & Industrial Sector H2 2025, Kamis (26/2).
Menariknya, sambung Syarifah, sektor terkait kendaraan listrik (EV-related) menyumbang sekitar 18% dari total serapan lahan sepanjang 2025. Dalam lima tahun terakhir, sektor ini konsisten menjadi penyerap lahan tertinggi, disusul oleh sektor data center yang terus berkembang seiring kebutuhan infrastruktur digital.
Kawasan Industri Agresif
Dari sisi wilayah, koridor Barat yang mencakup Serang–Cilegon tampil agresif dan mendominasi serapan lahan di akhir 2025. Strategi penjualan langsung kepada investor, ketersediaan lahan yang relatif luas, harga yang stabil, serta tingkat upah minimum yang kompetitif menjadi kombinasi daya tarik kawasan ini. Di sisi lain, Bekasi tetap menjadi magnet utama, bersama Karawang dan Subang, yang mencatat kenaikan harga lahan akibat tingginya permintaan.
Willson Kalip, Country Head dari Knight Frank Indonesia menambahkan, Greater Jakarta telah tumbuh menjadi ekosistem industri paling matang di Indonesia. Menurutnya, keunggulan komparatif kawasan ini menjadi pertimbangan utama investor, baik pada fase awal investasi maupun ekspansi lanjutan.
Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan para pemangku kepentingan, Greater Jakarta diyakini mampu mempertahankan performanya di tengah persaingan regional yang semakin ketat.
“Optimisme ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pasar lahan industri nasional dalam beberapa tahun ke depan,” pungkas Wilson. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI