Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Masalah stunting masih menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas. Upaya pencegahan dan penanganan terus diperkuat agar tidak ada lagi anak yang kehilangan hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Melalui Gerakan Anambas Sehat dan Bebas Stunting (GASING), pemerintah daerah menggulirkan langkah terpadu yang melibatkan berbagai sektor. Program ini dirancang untuk mempercepat penurunan angka stunting sekaligus menjaga kualitas generasi muda Anambas.
Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, menegaskan stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang tidak sesuai usia. Dampaknya jauh lebih luas dan menyentuh masa depan daerah.
“Stunting itu bukan sekadar soal fisik. Ini menyangkut perkembangan otak anak, kesehatan jangka panjang, dan produktivitas mereka ketika dewasa nanti,” ujar Aneng kepada Batam Pos, Kamis (26/2).
Berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ambang batas prevalensi stunting berada di angka 20 persen. Di Anambas, angka tersebut terus ditekan melalui intervensi terukur.
Data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) menunjukkan tren penurunan prevalensi stunting dari 3,90 persen pada 2024 menjadi 3,79 persen pada 2025. Penurunan ini dinilai sebagai hasil kerja bersama lintas sektor.
Aneng menyebut, keberhasilan tersebut tidak hanya ditopang sektor kesehatan. Sebagian besar intervensi justru berada di luar layanan medis.
“Sekitar 70 persen penanganan stunting berada di sektor nonkesehatan, seperti pendidikan, sanitasi, perlindungan sosial, dan ketahanan pangan. Jadi semua harus bergerak bersama,” tegasnya.
Sejumlah langkah konkret telah dijalankan, mulai dari penimbangan rutin balita di posyandu, pemberian vitamin A, hingga tambahan asupan gizi bagi ibu hamil serta ibu dengan kekurangan energi kronis. Edukasi pola asuh dan gizi juga diperkuat di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD).
Selain itu, peningkatan konsumsi ikan dan sayur terus digalakkan sebagai bagian dari perbaikan pola makan keluarga. Akses terhadap sanitasi layak dan air bersih juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Dalam Pra-Musrenbang Tematik Stunting tingkat kabupaten, para camat diminta berperan aktif menggerakkan desa dan kelurahan. Dana desa diarahkan untuk mendukung lima layanan dasar pencegahan stunting.
Lima layanan tersebut meliputi kesehatan ibu dan anak, konseling gizi terpadu, perlindungan sosial, sanitasi dan air bersih, serta pendidikan anak usia dini. Desa didorong tidak hanya menjalankan program rutin, tetapi juga menghadirkan inovasi sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.
Aneng menekankan pentingnya komitmen berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan.
Upaya pencegahan, kata dia, harus dimulai bahkan sebelum kelahiran.
“Kita ingin memastikan setiap anak di Anambas lahir sehat, tumbuh dengan gizi cukup, dan mendapat lingkungan yang mendukung. Ini investasi jangka panjang bagi daerah,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada sembilan desa yang berhasil mencapai zero stunting.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi dan keseriusan mampu menekan angka stunting secara nyata.
Melalui semangat GASING, Anambas menargetkan penurunan prevalensi stunting secara berkelanjutan. Komitmen ini diharapkan melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan. (*)
Reporter : IHSAN IAMDUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY