Buka konten ini

BANYAK orang menaruh harapan bisa memangkas berat badan selama bulan Ramadhan. Secara teori, durasi makan yang lebih singkat seharusnya membantu mengurangi kalori yang masuk ke tubuh. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit yang mendapati berat badan justru tetap atau bahkan sulit berubah.
Puasa memang menggeser pola makan harian, tetapi hal itu tidak otomatis membuat angka timbangan turun. Harvard T.H. Chan School of Public Health menegaskan bahwa perubahan berat badan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara kalori yang dikonsumsi dan energi yang dibakar.
Beragam studi tentang puasa Ramadhan juga memperlihatkan hasil yang berbeda-beda. Riset yang dipublikasikan melalui National Center for Biotechnology Information menemukan bahwa penurunan berat badan saat Ramadhan umumnya hanya sementara dan kerap kembali seperti semula setelah bulan puasa berakhir.
Lantas, apa saja faktor yang membuat berat badan tak kunjung turun meski sudah berpuasa? Berikut enam penyebab yang kerap terjadi selama Ramadhan, dirangkum dari World Health Organization, Mayo Clinic, Cleveland Clinic, serta Harvard Health Publishing:
1. Berbuka dengan Makanan Tinggi Gula dan Lemak
Menu takjil seperti kolak, gorengan, dan minuman bersirup memang menggoda. Namun asupan gula dan lemak berlebih dapat membuat kalori harian melonjak. WHO menganjurkan pembatasan gula tambahan guna mencegah kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme. Jika konsumsi gula berlebihan dilakukan setiap hari, upaya menurunkan berat badan menjadi lebih sulit.
2. Porsi Makan Tidak Terkontrol saat Berbuka
Rasa lapar setelah seharian berpuasa sering mendorong seseorang makan dalam jumlah besar. Mayo Clinic menyebut, makan berlebihan dalam satu waktu dapat meningkatkan total kalori harian secara signifikan. Kondisi ini membuat defisit kalori yang dibutuhkan untuk menurunkan berat badan tidak tercapai.
3. Minim Aktivitas Fisik
Sebagian orang mengurangi kegiatan karena merasa tubuh lebih cepat lelah selama puasa. Padahal, kurang bergerak berarti kalori yang dibakar juga lebih sedikit. WHO menjelaskan, aktivitas fisik teratur membantu menjaga keseimbangan berat badan. Tanpa pergerakan yang cukup, tubuh cenderung menyimpan energi dalam bentuk lemak.
4. Kurang Tidur
Perubahan jadwal akibat sahur dan ibadah malam dapat mengurangi durasi istirahat. Cleveland Clinic menyatakan, kurang tidur dapat meningkatkan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar. Dampaknya, keinginan makan berlebihan menjadi lebih besar.
5. Konsumsi Minuman Tinggi Kalori
Es teh manis, kopi susu gula aren, atau minuman bersirup sering dianggap sepele. Padahal, kalori dari minuman tetap menyumbang pada total asupan harian. Harvard Health Publishing menjelaskan, minuman manis mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak sehingga berisiko meningkatkan berat badan tanpa disadari.
6. Adaptasi Metabolisme Tubuh
Perubahan pola makan dapat membuat tubuh menyesuaikan diri dengan memperlambat laju metabolisme. Ini merupakan respons alami untuk mempertahankan energi. Penelitian yang dimuat melalui NCBI menunjukkan, perubahan jangka pendek tidak selalu menghasilkan penurunan berat badan signifikan karena adanya adaptasi metabolik.
Dengan demikian, keberhasilan menurunkan berat badan selama Ramadhan sangat bergantung pada pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta kualitas istirahat. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO