Buka konten ini

BULAN Ramadan kerap mengubah ritme tubuh, mulai dari pola makan, waktu tidur, hingga jumlah cairan yang masuk. Di tengah penyesuaian itu, ada satu organ yang sering terdampak tanpa disadari, yakni kulit yang terasa semakin kering atau seperti “tandus”.
Dokter spesialis dermatologi dan venereologi, Amanda Nandi Wardani, BMedSc(Hons), Sp.D.V.E, menjelaskan bahwa berkurangnya asupan cairan selama berpuasa dapat memicu dehidrasi kulit. Ia menyebut kondisi ini sebagai “kulit tandus”, yakni saat kulit kehilangan kelembapan secara berkepanjangan.
“Ketika tubuh kekurangan cairan, kulit lama-kelamaan menjadi semakin kering. Ibarat tanah yang terus kehilangan air, dehidrasi yang dibiarkan dapat membuat kulit kasar, kusam, mengelupas, bahkan meradang. Ini yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Secara klinis, tanda kulit kurang terhidrasi sebenarnya bisa dikenali dengan mudah. Garis-garis halus tampak lebih jelas, tekstur permukaan terasa kasar, dan pada beberapa kasus muncul retakan kecil. Menurut dr. Amanda, kondisi tersebut menjadi sinyal awal berkurangnya kelembapan alami kulit.
Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di Kota Kasablanka, Jakarta, baru-baru ini.
Area tangan dan kaki biasanya menjadi bagian pertama yang menunjukkan gejala. Kedua area ini lebih sering terpapar udara luar dan aktivitas harian sehingga lebih cepat kehilangan cairan dibandingkan bagian tubuh lainnya.
Strategi Hidrasi 2-4-2
Terkait kebutuhan cairan, dr. Amanda menegaskan orang dewasa memerlukan sekitar 2 hingga 2,5 liter air per hari. Selama Ramadan, kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi dengan pengaturan waktu minum yang tepat.
Ia merekomendasikan pola 2-4-2, yakni dua gelas saat sahur, empat gelas sejak berbuka hingga malam hari, dan dua gelas sebelum tidur. Total delapan gelas ini setara dengan sekitar dua liter cairan.
Hidrasi dari dalam saja belum cukup untuk menjaga kelembapan kulit.
Pentingnya Skin Barrier dan Pelembap
Ada kalanya seseorang merasa sudah cukup minum, tetapi kulit tetap kering. Dalam situasi ini, masalahnya bisa terletak pada fungsi pelindung kulit atau skin barrier.
Menurut dr. Amanda, pelembap berperan membentuk lapisan tambahan agar cairan tidak mudah menguap dari permukaan kulit. Dalam istilah medis, proses penguapan tersebut dikenal sebagai trans epidermal water loss (TEWL).
Tanpa perlindungan yang optimal, air yang sudah terserap ke dalam kulit akan lebih cepat menguap. Karena itu, penggunaan pelembap secara rutin selama Ramadan sangat dianjurkan.
Ia menyarankan pemakaian minimal dua kali sehari, terutama setelah mandi ketika kulit masih dalam kondisi lembap agar air dapat “terkunci” di dalam lapisan kulit. Pada kondisi sangat kering, frekuensi pemakaian bisa ditingkatkan.
“Jika ingin lebih praktis, setiap selesai wudu bisa langsung mengaplikasikan pelembap kembali. Cara ini cukup membantu menjaga hidrasi dari luar,” jelasnya.
Batasi Minuman Bersifat Diuretik
Selain memperhatikan jumlah air putih, konsumsi minuman seperti kopi dan teh juga perlu dibatasi. Minuman tersebut memiliki efek diuretik yang dapat mempercepat pengeluaran cairan dari tubuh.
“Kopi bersifat diuretik sehingga cairan tubuh lebih cepat keluar dan berisiko memperparah dehidrasi,” katanya.
Ia tidak melarang konsumsi sepenuhnya, tetapi menyarankan agar tidak berlebihan, terutama saat sahur dan berbuka.
Perhatikan Tidur dan Asupan Nutrisi
Perubahan jadwal ibadah dan aktivitas selama Ramadan kerap memengaruhi waktu istirahat. Padahal, proses regenerasi kulit sangat bergantung pada kualitas tidur.
Dr. Amanda menyarankan waktu tidur ideal 6–8 jam per hari. Selain itu, konsumsi buah dan sayuran yang kaya air serta nutrisi juga penting untuk mendukung kesehatan kulit.
“Tubuh, termasuk kulit, membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar proses perbaikan berjalan optimal,” tegasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO