Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Sebanyak 50 pedagang takjil di Tarempa didatangi petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepulauan Anambas, Minggu (22/2). Kedatangan petugas dilakukan saat para pedagang tengah melayani pembeli yang berburu makanan untuk berbuka puasa.
Petugas menyambangi satu per satu lapak yang menjual aneka makanan dan minuman di kawasan Pasar Tarempa. Meski sempat membuat pedagang bertanya-tanya, kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengambil sampel makanan dan minuman yang dijual kepada masyarakat sebagai bagian dari pengawasan keamanan pangan selama Ramadan.
Staf Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Anambas, Sofiani Srilagogo, mengatakan sampel yang diambil terdiri atas berbagai jenis makanan kering, makanan basah, hingga minuman berwarna.
“Sampel yang diambil berupa makanan kering dan basah serta beragam minuman,” ujar Sofiani di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, pemeriksaan dilakukan dari berbagai aspek, mulai dari komposisi bahan, kebersihan proses pengolahan, hingga cara penyajian di lapak. Petugas juga mengecek kebersihan peralatan dan sistem penyimpanan bahan makanan untuk mencegah potensi kontaminasi.
Selain itu, dilakukan uji cepat terhadap kandungan bahan kimia berbahaya yang dilarang Kementerian Kesehatan, seperti boraks, formalin, dan methanil yellow.
“Kami cek kandungan kimia yang dilarang Kemenkes, seperti boraks, formalin, dan methanil yellow,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, seluruh sampel pangan yang diuji dinyatakan aman dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Sofiani menyebut hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran pedagang dalam menjaga kualitas pangan.
Meski demikian, pengawasan akan terus dilakukan secara berkala. “Kalau ke depan ditemukan pangan tidak aman, akan kami kenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas masih menemukan sejumlah pedagang minuman yang menggunakan botol bekas air mineral untuk mengemas dagangan. Padahal, botol sekali pakai tidak dianjurkan untuk digunakan kembali karena berisiko terhadap kesehatan.
Namun, jumlah pelanggaran tersebut disebut jauh berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. “Tidak sebanyak tahun lalu, sekarang sudah berkurang,” kata Sofiani.
Sementara itu, salah satu pedagang takjil, Nevil, mengaku selalu menjaga kualitas dagangannya. Ia memastikan makanan dan minuman yang dijual dibuat setiap hari.
“Kalau tidak habis, kami kasih ke orang atau dibuang. Tidak ada makanan atau minuman sisa kemarin dijual lagi,” ujarnya.
Nevil menegaskan, menjaga kepercayaan pembeli merupakan hal utama dalam berdagang.
“Kami mencari rezeki, tapi keselamatan dan kesehatan pembeli lebih penting. Dagangan boleh habis, tapi kepercayaan jangan sampai hilang,” tegasnya. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY