Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pasar properti residensial Indonesia memasuki babak baru di awal 2026 dengan pergeseran peta kekuatan dari pasar rumah primer ke rumah sekunder. Tekanan ekonomi sepanjang 2025, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), memicu lonjakan inventori rumah bekas (sekunder) saat pengembang mulai menahan suplai rumah baru.
Laporan Pinhome Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 & Outlook 2026 mencatat rata-rata penambahan inventori rumah baru bulanan turun hingga 14%.
Sebaliknya, pasokan rumah sekunder justru tumbuh rata-rata 5% per bulan, terutama di wilayah penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan.
CEO dan Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengungkapkan bahwa fenomena meningkatnya stok rumah sekunder merupakan imbas dari dinamika ekonomi nasional. Sebagian pemilik properti memilih melepas aset mereka demi menjaga likuiditas rumah tangga di tengah kenaikan biaya hidup.
”Tekanan ekonomi mendorong pemilik properti melepas aset hunian. Ini terlihat dari meningkatnya listing dengan label ’Butuh Uang’ (BU) atau ’Jual Cepat’ di bawah harga pasar,” ujar Dara dalam diskusi media di Jakarta, dikutip Kamis (19/2/2026).
Pergeseran Preferensi Konsumen
Kondisi ekonomi juga mengubah strategi pembiayaan masyarakat. Data menunjukkan minat terhadap Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk hunian sekunder kini telah melampaui rumah primer. Konsumen cenderung menghindari beban pengeluaran ganda (cicilan dan sewa) yang biasanya terjadi pada sistem rumah inden.
Selain itu, skema Take Over dan Top Up mendominasi transaksi hingga 74%. Masyarakat kini lebih memilih tenor kredit yang lebih panjang dengan plafon yang lebih rendah untuk menjaga fleksibilitas arus kas (cash flow) bulanan.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menambahkan bahwa meskipun ada perlambatan, sinyal rebound penjualan rumah primer mulai terlihat di penghujung tahun.
”Pemulihan akan sangat ditentukan oleh keterjangkauan (affordability), kepastian kebijakan, serta kemampuan pembiayaan untuk menjangkau segmen yang paling membutuhkan,” tuturnya.
Di tengah tekanan pasar komuter, kawasan industri justru mencatatkan performa positif. Permintaan properti di Cikarang tumbuh 16% pada semester II/2025, berbanding terbalik dengan kawasan residensial seperti Bekasi (Tambun dan Cibitung) yang mengalami koreksi permintaan hingga 22%.
Optimisme pasar tahun ini juga didorong oleh pertumbuhan di luar Pulau Jawa. Hilirisasi sumber daya alam menjadi katalis utama, di mana Maluku Utara mencatatkan kenaikan pencarian rumah sebesar 11% dan Sulawesi Tengah naik 8%, dipicu oleh ekspansi industri nikel di Morowali dan Halmahera.
Pembangunan infrastruktur seperti Kereta Cepat Whoosh dan Tol Getaci juga diprediksi akan terus mengerek nilai properti di koridor Bandung Timur dan sekitarnya pada sisa tahun 2026. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI