Buka konten ini

KRISIS pasokan air bersih masih dirasakan warga di sejumlah kawasan di Batam, seperti Batu Merah, Tanjung Sengkuang, Bengkong, Baloi, dan wilayah sekitarnya. Distribusi air di kawasan tersebut hingga kini masih mengandalkan mobil tangki.
Direktur Pengendalian Lahan BP Batam yang juga Ketua Tim Task Force, Denny Tondano, mengatakan kapasitas produksi instalasi pengolahan air yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh pelanggan.
“Suplai air untuk wilayah Batu Merah, Tanjung Sengkuang, Batuampar, Baloi, dan sekitarnya masih bergantung pada truk tangki. Kapasitas produksi instalasi belum mencukupi sehingga terjadi kekurangan di beberapa titik distribusi,” ujarnya, Senin (16/2).
Sebagai solusi jangka menengah, BP Batam merencanakan pembangunan jaringan pipa baru dari Sukajadi menuju Jodoh, Nagoya, hingga Baloi. Melalui jaringan tersebut, pola distribusi akan diatur ulang sehingga suplai dapat dialihkan ke kawasan terdampak seperti Tanjung Sengkuang, Bengkong, Batu Merah, dan wilayah lain yang mengalami kekurangan air.
Menurut Denny, proses pengadaan proyek segera dimulai. Pengumuman lelang dijadwalkan pekan depan dengan masa tender sekitar 45 hari. Setelah penetapan pemenang, pekerjaan ditargetkan mulai Maret 2026 dan berlangsung sekitar empat bulan.
“Kami mengupayakan selesai lebih cepat, sekitar Juli 2026,” katanya.
Ia menjelaskan, proyek tersebut dikawal langsung Deputi VII BP Batam secara terbuka di setiap tahapan, mulai dari pengumuman lelang hingga pelaksanaan di lapangan.
Masyarakat juga dapat memantau perkembangan proyek agar berjalan sesuai rencana.
Sebelum konstruksi dimulai, seluruh perizinan akan dituntaskan, termasuk koordinasi dengan kepolisian, instansi pekerjaan umum, serta pemilik jaringan listrik dan telekomunikasi. Pekerjaan pipa akan melibatkan pengeboran di bawah jalan dan flyover sehingga perlu dipastikan tidak mengganggu utilitas lain yang telah terpasang.
Sambil menunggu proyek rampung, distribusi air tetap dilakukan menggunakan mobil tangki. Armada yang semula berjumlah 16 unit kini ditambah menjadi 30 unit dan akan ditingkatkan hingga 34 unit.
“Setiap wilayah sudah ditetapkan armada dan pengemudi khusus agar distribusi lebih terarah dan tidak berpindah sebelum kebutuhan di wilayah tersebut terpenuhi,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan penyebab aliran air yang kerap tidak stabil. Produksi sebelumnya sempat dipaksakan melampaui kapasitas mesin, namun berisiko merusak pompa. Karena itu, pengoperasian kini diatur lebih hati-hati agar sistem tetap aman dan berfungsi berkelanjutan.
Denny menegaskan, program pembangunan jaringan pipa tersebut telah didukung anggaran dan dokumen resmi. Penetapan pemenang tender diperkirakan berlangsung antara Maret hingga awal April 2026 sebelum pekerjaan dimulai.
Setiap tahapan proyek akan disampaikan secara terbuka kepada publik. Setelah pekerjaan berjalan, papan proyek akan dipasang di lokasi sebagai bentuk transparansi.
Di sisi lain, penambahan armada tangki juga dilakukan melalui modifikasi kendaraan dengan pemasangan tandon air. Distribusi sementara ditargetkan berlangsung hingga pukul 21.00 WIB setiap hari. Jika masih terdapat kekurangan pasokan, waktu pengiriman dapat diperpanjang secara terbatas.
“Distribusi dipantau setiap hari. Jika ada kendala di lapangan, langsung dievaluasi agar penyaluran tetap berjalan,” katanya.
Ia menambahkan, pengawasan dilakukan secara langsung untuk memastikan upaya penanganan krisis air segera dirasakan masyarakat.
Sebelumnya, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebutkan bahwa tiga persoalan utama yang masih menjadi pekerjaan berat pemerintahannya yakni layanan air bersih, banjir, dan pengelolaan sampah.
Ketiga persoalan tersebut masih berproses meski berbagai langkah telah ditempuh. Amsakar memahami masyarakat menginginkan solusi cepat dan nyata. Di sisi lain, 12 program prioritas lainnya disebut berjalan relatif baik sesuai rencana kerja pemerintah daerah dan BP Batam.
Sorotan utama diarahkan pada sektor air bersih yang dinilai sebagai tantangan paling kompleks. Salah satu persoalan utama mengapa persoalan air ini relatif lambat penyelesaiannya, karena ternyata MoU BP Batam dengan Konsorsium Moya & PP yang diteken kepemimpinan sebelumnya, tidak sefleksibel saat konsesi ATB. Konsorsium Moya benar-benar hanya sebagai operator, sementara jika ada perbaikan, harus melalui anggaran SPAM BP Batam yang tentunya harus melalui proses tender yang panjang.
“Moya bukan tak punya uang dan bukan tidak mau investasi, kontrak membatasi, ini yang akan kita adendum secepatnya. Tim hukum kami sedang mengkaji. Prinsipnya, air bersih ini hajat hidup orang banyak, tidak boleh mendahulukan keuntungan berlipat, tapi pelayanan yang terbaik yang harus didahulukan,” tegasnya.
Amsakar enggan menyalahkan mengapa aturan kerjasama yang dibuat sebelumnya tidak fleksibel. Baginya yang terpenting menatap ke depan dan memperbaiki apa yang menjadi kendala.
“Selama ini, Moya lebih berfokus pada penyediaan suplai (operator), sementara aspek lain dalam sistem belum sepenuhnya tercakup. Maka, memang perlu adendum kerja sama dengan Moya, mencakup juga proyek terkait air ini,” ujarnya, lagi.
Perubahan perjanjian tersebut diharapkan mampu mempercepat pembenahan layanan secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga distribusi ke pelanggan.nyediaan air bersih.
Evaluasi awal kepemimpinan menemukan sedikitnya 18 wilayah masuk kategori stress area. Untuk penanganan jangka pendek, pemerintah menyiapkan distribusi air melalui armada tangki dalam jumlah besar.
“Solusi paling mungkin untuk jangka pendek butuh paling tidak 100 armada air tangki. Saya tidak ingin di Ramadan nanti air masyarakat terganggu,” ujarnya.
Sementara itu, strategi jangka menengah dan panjang diarahkan pada peningkatan kapasitas instalasi dan perbaikan jaringan melalui proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Sebanyak sembilan titik stress area tengah diproses melalui mekanisme tender dan ditargetkan rampung beberapa bulan ke depan. Namun, masih terdapat sembilan titik lain yang membutuhkan penanganan lanjutan.
“Mudah-mudahan setelah ada pemenang tender tidak ada sanggahan, sebab kalau ada sanggahan membuat penyelesaian masalah stress area ini semakin lama,” ujarnya.
Amsakar menegaskan, ketersediaan air bersih bukan hanya kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga faktor penting dalam menarik investasi.
Menurutnya, calon investor umumnya mempertimbangkan dua hal utama sebelum menanamkan modal, yakni kepastian pasokan air dan keandalan listrik di Batam. (***)
LAPORAN : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK