
PEMBANGUNAN infrastruktur tidak boleh berhenti pada proyek fisik. Infrastruktur harus memperkuat konektivitas antarwilayah dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan ekonomi pun harus inklusif dan berkeadilan.

Penegasan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek 2557 Kongzili yang digelar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di kawasan Nagoya, Lubuk Baja, Batam, Senin (16/2) malam.
Sebagai Menko Infrastruktur, AHY menekankan bahwa konektivitas menjadi kunci pemerataan pembangunan.
“Infrastruktur harus meningkatkan konektivitas dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, tidak ada pertumbuhan ekonomi yang lebih penting selain pertumbuhan yang menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang lebih penting selain pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Semua harus merasakan kesejahteraan,” tegasnya.
AHY juga menyoroti posisi strategis Batam sebagai kawasan ekonomi khusus dengan status free trade zone yang sejak awal dirancang sebagai gerbang ekonomi Indonesia di Asia Tenggara. Dengan letak geografis yang strategis, Batam dinilai memiliki potensi besar untuk terus tumbuh sebagai pusat investasi dan industri.
Dalam konteks itu, ia mengapresiasi kontribusi komunitas Tionghoa, khususnya pelaku usaha dan industri, yang selama ini berperan membuka lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian daerah.
“Generasi muda membutuhkan pekerjaan dan penghasilan. Peran dunia usaha sangat penting,” katanya.
AHY menilai Batam merupakan miniatur Indonesia yang mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman suku, agama, ras, dan budaya menjadi kekuatan dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan.

“Di sini ada Melayu, Jawa, Batak, Minang, Tionghoa, dan semuanya hidup rukun serta harmonis. Tidak semua bangsa memiliki unity in diversity,” ujarnya.
Ia mengaku bahagia dapat merayakan Imlek bersama masyarakat Batam dan menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan.
“Terima kasih atas sambutan yang hangat, bersahabat, dan luar biasa,” katanya.
AHY juga mengapresiasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Wali Kota sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra.
“Kita apresiasi capaian satu tahun kepemimpinan Amsakar dan Li Claudia. Ini baru awal, masih ada empat tahun lagi untuk terus mengawal pembangunan Batam,” ujarnya.
Ia berharap perayaan Imlek menjadi momentum menghadirkan energi baru untuk memperkuat transformasi pembangunan menuju Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.
“Saya berharap tahun ini membawa kekuatan dan keberanian untuk terus bertransformasi,” tutupnya.
Amsakar Paparkan Capaian Investasi
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memaparkan capaian pembangunan menjelang genap satu tahun kepemimpinannya.
Pertumbuhan ekonomi Batam meningkat dari 6,6 persen menjadi 6,89 persen. Realisasi investasi melampaui target. Dari proyeksi Rp60 triliun, capaian investasi menembus Rp69,3 triliun atau 115,5 persen.
“Kami dilantik 20 Februari. Empat hari lagi genap satu tahun,” ujarnya.
Ia optimistis pada 2029 pertumbuhan ekonomi Batam dapat mencapai 9,5 hingga 10 persen.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam juga naik dari 83,3 menjadi 83,8, tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Angka kemiskinan turun dari 4,85 persen menjadi 3,81 persen pada 2025.
Namun, Amsakar mengakui masih terdapat sejumlah persoalan, terutama air bersih, sampah, dan banjir. Persoalan air bersih menjadi tantangan paling kompleks.
Saat ini terdapat 18 wilayah yang masuk kategori stress area pelayanan air.
“Anggaran BP Batam baru mampu mengatasi sembilan stress area. Sembilan lainnya kita upayakan tahun depan,” jelasnya.
Ia meminta masyarakat bersabar sembari pemerintah mempercepat perbaikan sistem distribusi dan peningkatan kapasitas layanan.
Perayaan Imlek 2557 yang diwarnai lampion merah dan pertunjukan barongsai tersebut menjadi simbol harmoni lintas etnis dan agama di Batam, sekaligus panggung penyampaian komitmen pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. (***)
LAPORAN : M SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK