Buka konten ini

Wakil Ketua Majelis TablighPimpinan Cabang Muhammadiyah Batam Kota
MARHABAN YA RAMADHAN: MARHABAN BIL MUTHAHHIRI (Selamat datang duhai Ramadhan: Selamat datang wahai sang pencerah). Ramadhan merupakan bulan yang sangat populer di Indonesia, baik dalam perspektif ritual keislaman maupun tradisi kemasyarakatan. Begitu melekatnya Ramadhan yang hidup dalam sanubari masyarakat sehingga kita tidak bisa membedakan antara yang murni agama dan tradisi itu sendiri.
Suasana menyambut Ramadhan mulai terasa sejak awal Rajab sampai akhir Syakban. Setiap habis shalat berjamaah secara umum imam shalat selalu menyelipkan doa
“Allahumma bariklana fi Rajaba wa Syakbana waballighna Ramadhan”. (Ya Allah berikanlah kepada kami keberkahan pada bulan Rajab dan Syakban serta sampaikanlah kepada kami kesempatan pada bulan Ramadhan. Doa itu juga sangat populer dan viral di berbagai media sosial, seperti YouTube, WhatsApp (WA), akun TikTok, Facebook, dan akun-akun yang lainnya. Ada perasaan tidak afdhal (kurang mantap) rasanya kalau belum subscribe, mengucapkan atau meneruskan (forward) doa tersebut. Bagi orang yang mempunyai kreativitas tinggi doa tersebut juga dikumandangkan dengan desain gambar, musik, dan video singkat.
Selanjutnya pada saat memasuki bulan Syakban, khususnya pada akhir Syakban areal permakaman ramai dikunjungi oleh masyarakat yang akan menjalankan tradisi ziarah kubur bagi orang tua, sanak saudara atau famili yang sudah meninggal. Mendoakan mereka yang sudah meninggal pada moment ini seakan telah menjadi tradisi yang harus dilakukan guna menyambut Ramadhan. Ada juga masyarakat yang berkunjung ke makam orang yang diyakini mempunyai karomah sekedar untuk menjadi wasilah doa memohon keberkahan kepada Tuhan. Dalam masyarakat tertentu ada juga masyarakat yang sengaja pergi ke pantai, danau, sungai atau kolam-kolam pemandian untuk menjalankan tradisi mandi (pandusan) menjelang Ramadhan.
Lain lagi kebiasaan masyarakat yang hidup di perantauan dan tinggal di lingkungan perkotaan. Tradisi menyambut Ramadhan juga semarak dan sedikit mengalami evolusi. Masyarakat pergi ke Mall atau supermarket untuk shopping/belanja pernak-pernik Ramadhan, seperti sajadah, sarung, baju koko, dan mukenah sebagai persiapan untuk shalat tarawih.
Selanjutnya suasana khas menyambut Ramadhan perkotaan juga terlihat munculnya pedagang dadakan di sepanjang jalan yang dijadikan sebagai pasar kaget Ramadhan. Para pedagang ini bersiap untuk menyediakan aneka dagangan, khususnya masakan khas yang dapat dijadikan menu buka puasa yang lazimnya disebut takjil.
Pendek kata semua tradisi tersebut membuat Ramadhan menjadi bertambah khas dan menjadi kenangan tersendiri bagi masyarakat yang jauh di perantauan.
Setelah melihat fenomena menyambut Ramadhan tersebut, sebenarnya apa makna sejati atau hikmah menyambut Ramadhan dalam Islam yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Hal ini cukup penting agar kita tidak larut dalam euforia tradisi Ramadhan yang justru menghilangkan makna kesetiaan Ramadhan itu sendiri.
Meskipun frasa ”marhaban bil muthahhiri” tidak ditemukan sebagai sebuah hadis (sabda Nabi Muhammad SAW) yang berdiri sendiri dalam kitab-kitab hadis primer yang otoritatif (seperti Sahih Bukhari atau Sahih Muslim), frasa itu telah melekat dalam ucapan menyambut bulan Ramadhan. Namun frasa tersebut tidak sepopuler dengan frasa “Marhaban Ya Ramadhan”. Tidak jarang kedua frasa diucapkan secara beriringan “Marhaban Ya Ramadhan Marhaban bil muthahhiri”.
Dalam tulisan ini kita tidak akan memperdebatkan apakah kedua frasa “Marhaban Ya Ramadhan Marhaban bil muthahhiri” merupakan ucapan Nabi Muhammad Saw atau tidak, tetapi kita ingin menggali makna tersirat yang ingin disampaikan dalam kedua frasa yang populer dalam menyambut bulan Ramadhan.
Setidaknya ada dua kata yang harus dicermati yaitu “Ramadhan” dan “muthahhir”. Pertama, “Ramadhan”. Secara etimologis “Ramadhan” berasal dari kata Dari kata Arab ramadh, ramdhaa, atau ramidha. Secara harfiah maknanya adalah Panas terik matahari yang membakar tanah atau batu. Sedangkan makna Simbolis (Religius) berdasarkan beberapa sumber adalah membakar dosa, yaitu dosa-dosa dihapus atau ”terbakar” oleh amal saleh dan ibadah di bulan ini dengan sentral ibadah khusus menjalankan puasa.
Kedua “muthahhir”. Secara etimologis kata “muthahhir” (atau dibaca lengkap “muthahhirun” berasal dari bahasa Arab dengan akar kata kerja (tahura) yang berarti suci bersih atau murni, baik secara fisik maupun spiritual. Dalam tata bahasa Arab kata “tahura” merupakan kata kerja lazim (fi’il lazim) yang tidak membutuhkan objek pelengkap penderita (maf’ul bih). Selanjutnya kata “tahura” yang berarti suci tersebut diubah menjadi “tahhara” sehingga artinya menjadi “mensucikan”, statusnya menjadi kata kerja atau fi’il muta’addi, sehingga membutuhkan objek atau pelengkap penderita. Dengan demikian arti kata “muthahhirun” adalah “orang yang mensucikan”.
Oleh karena itu dalam sebuah riwayat, pada saat Nabi Muhammad Saw berkata ”Marhaban bil muthahhiri” (artinya Selamat datang wahai yang mensucikan), lalu para sahabat bertanya : “Waman Muthahhiru ya Rasulallah” (siapakah orang yang mensucikan itu wahai Rasul Allah). Lantas Nabi menjawab: “Almuthahhiru Syahru Ramadhan”: (yang mensucikan itu adalah bulan Ramadhan). Itulah sebabnya kenapa dalam tradisi masyarakat kita bulan Ramadhan selalu dilekatkan dengan kata bulan suci sehingga muncul ungkapan “Bulan Suci Ramadhan”.
Pada intinya bulan Ramadhan dan seluruh aktivitas ibadah yang dilakukan selama satu bulan adalah sebuah sistem atau metode ilahiyah yang menjadikan seseorang itu menjadi “Muthahhar”, yaitu “orang yang tersucikan” baik lahir maupun batin. Orang yang sudah tersucikan lahir maupun batin pada gilirannya menjadi “orang yang tercerahkan”, dimana nilai-nilai ilahiyah terpancar menerangi realitas dan aktivitas seseorang dalam kesehariannya.
Dengan demikian metode ilahiyah Ramadhan merupakan “Sang Pencerah” penyinar nilai-nilai ketuhanan pada diri seorang hamba sehingga hamba tersebut mampu memantulkan cahaya ilahiyah dalam kehidupan yang nyata. Semoga Ramadhan 1447 H / 2026 M bisa menjadikan kita orang-orang yang tercerahkan hati dan jiwa sehingga bisa mendapatkan predikat taqwa setelah menjalankan ibadah puasa. (*)