Buka konten ini

PADANG (BP) – Beasiswa memiliki peran penting dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan banyak keluarga, bantuan biaya pendidikan kerap menjadi faktor penentu apakah seorang siswa dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau terpaksa berhenti di tengah jalan.
Namun, beasiswa bukan hanya soal dukungan dana. Program ini juga menjadi bentuk apresiasi atas potensi dan kerja keras siswa. Ada dorongan moral, penguatan rasa percaya diri, hingga pendampingan yang membantu mereka menyusun arah studi dan karier secara lebih terencana.
Manfaat tersebut dirasakan Salma, remaja asal Lubuk Kilangan, Padang, Sumatera Barat. Sejak lama, ia bercita-cita menjadi peneliti di bidang neuroscience. Kini, ia tercatat sebagai penerima Beasiswa Amartha Cendekia Batch 1 dan melanjutkan studi di Universitas Albukhary, Malaysia.
Salma ingin berkontribusi pada pengembangan riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberi dampak nyata, khususnya bagi anak-anak. Ketertarikannya pada neuroscience berangkat dari pengamatannya terhadap lingkungan sekolah yang sering kali membentuk cara anak memandang kemampuan dirinya.
Ia menilai masih banyak orang mengukur kecerdasan semata dari peringkat atau status juara kelas. Padahal, menurutnya, cara kerja otak manusia jauh lebih kompleks dan adaptif. Hal itulah yang mendorongnya untuk mempelajari lebih dalam tentang bagaimana otak memproses dan menghubungkan berbagai informasi.
Melalui riset yang ingin ia tekuni, Salma berharap dapat membantu anak-anak tumbuh dengan kesehatan mental yang baik serta rasa percaya diri yang kuat. Ia juga ingin mendorong orang tua untuk mendampingi anak tanpa menghakimi.
Untuk memperdalam ilmunya, Salma memilih mempelajari computer science sebagai fondasi. Ia melihat keterkaitan erat antara ilmu komputer dan neuroscience, terutama dalam pendekatan teknis yang dibutuhkan untuk memahami sistem kerja otak.
Perjalanan menuju cita-cita itu tidak mudah. Salma aktif mencari berbagai peluang beasiswa sebagai wujud kemandirian dalam merancang masa depannya. Ia mengikuti kompetisi, bergabung dalam organisasi, menginisiasi proyek sosial, hingga terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat di bidang pendidikan.
Ia pertama kali mengetahui Beasiswa Amartha Cendekia dari keluarganya. Saat mendaftar, ia tidak menaruh ekspektasi tinggi. Namun ketika dinyatakan lolos, momen itu menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia sempat merasa perjalanan akademiknya belum cukup matang, tetapi kesempatan tersebut membuka jalan baru baginya.
Program Beasiswa Amartha Cendekia memberikan bantuan dana pendidikan sebesar Rp3 juta bagi siswa kelas 11 SMA/SMK di seluruh Indonesia serta pendampingan selama satu tahun. Para penerima mendapat bimbingan dari Kakak Asuh yang berasal dari kalangan profesional untuk mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi. Selain itu, tersedia tambahan dana Rp5 juta bagi penerima yang berhasil diterima di universitas.
Bagi Salma, nilai terbesar dari program ini bukan hanya pada bantuan finansial, melainkan pada peran Kakak Asuh yang memperluas perspektifnya tentang pendidikan tinggi dan dunia kerja. Ia merasa mendapatkan sudut pandang baru di luar keluarga, terutama dalam menyusun prioritas hidup dan meraih peluang akademik.
Salma termasuk penerima beasiswa yang sukses melanjutkan studi hingga perguruan tinggi. Ia bahkan diterima di sejumlah universitas dalam dan luar negeri. Dalam prosesnya, ia sempat kecewa karena beberapa program beasiswa yang diincar tidak membuka pendaftaran. Namun, ia tetap berupaya dan mendaftar ke puluhan universitas di Kanada, Malaysia, dan Australia.
Hasilnya, ia diterima di belasan kampus, termasuk beberapa universitas ternama dunia. Meski memiliki banyak opsi, Salma akhirnya memilih Universitas Albukhary karena program studinya dinilai paling sesuai dengan minatnya serta lokasinya yang relatif dekat dengan Indonesia.
Sejak awal, orang tuanya terbuka mengenai kondisi ekonomi keluarga. Hal itu justru memotivasi Salma untuk tidak menjadi beban dan berusaha meraih beasiswa penuh. Ia ingin membuktikan bahwa dengan tujuan yang jelas dan usaha konsisten, keterbatasan bukanlah penghalang. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO