Buka konten ini

MUSIM kemarau yang melanda Kabupaten Karimun lebih dari sebulan terakhir mulai berdampak pada ketersediaan air baku. Debit air di Waduk Utama Sei Bati, yang menjadi sumber utama distribusi air bersih, tercatat menyusut hingga 7,5 meter.
Direktur Perumda Tirta Mulia Karimun, Ferry Kurniawan, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung dan pengukuran di lapangan. Hasilnya, dari kedalaman normal 10 meter, kini air yang tersisa hanya sekitar 2,5 meter.
“Kami sudah turun ke lapangan dan melakukan pengukuran. Saat ini, dari kedalaman 10 meter, tersisa sekitar 2,5 meter. Artinya, terjadi penyusutan 7,5 meter,” ujarnya kepada Batam Pos.
Meski terjadi penyusutan cukup signifikan, Ferry memastikan kondisi tersebut belum berdampak terhadap distribusi air bersih ke pelanggan. Perumda Tirta Mulia Karimun masih mengandalkan dua waduk cadangan, yakni Waduk Sentani dan Waduk Pongkar, yang telah dilengkapi mesin pompa dan jaringan pipa pendukung.
Saat ini, pompa di Waduk Sentani dan Waduk Pongkar telah dioperasikan untuk membantu suplai air ke reservoir Sei Bati. Pompa di Waduk Sentani dan Sei Bati beroperasi selama 24 jam, sedangkan Waduk Pongkar beroperasi sekitar 10 jam per hari.
“Insya Allah, dengan beroperasinya ketiga waduk ini, distribusi air bersih ke pelanggan tidak akan terganggu,” tegasnya.
Ia mengakui, penyusutan juga terjadi di Waduk Sentani dan Waduk Pongkar. Namun, karena kedalaman dan luasnya lebih besar dibanding Waduk Sei Bati, penurunan debit air tidak terlalu berdampak. Rata-rata penyusutan di kedua waduk tersebut sekitar 2 meter.
Ferry pun mengimbau pelanggan Perumda Tirta Mulia Karimun agar tidak khawatir. Persediaan air bersih untuk masyarakat di Bumi Berazam, sebutnya, masih dalam kondisi aman.
Waduk Sei Jago Bocor
Sementara itu, kebocoran pada Waduk Sei Jago di Tanjunguban, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara, memperparah krisis air bersih di wilayah tersebut.Hingga Jumat (13/2), ketinggian air waduk tercatat hanya sekitar 40 sentimeter, jauh dari kondisi normal.
Kepala Cabang PDAM Tirta Kepri Tanjunguban, Sugito, mengatakan kebocoran terjadi pada dinding waduk. Meski tidak mencapai 20 persen, rembesan tersebut membuat air lebih cepat menyusut di tengah kemarau.
“Kebocoran dinding waduk lumayan besar, tapi tidak sampai 20 persen. Kami sudah usulkan perbaikan ke BWS, saat ini masih dipelajari,” ujarnya.
Menurut Sugito, pihaknya telah menyampaikan usulan perbaikan kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) karena kewenangan perbaikan berada di instansi tersebut.
Ia mengakui kebocoran membuat kondisi waduk semakin kritis. Meski demikian, distribusi air ke pelanggan tetap dilakukan dengan sistem pengaturan waktu, yakni mulai pukul 04.00 hingga sekitar pukul 10.00 WIB.
PDAM Tirta Kepri juga melakukan langkah darurat, seperti menambal dan mengaci bagian dinding yang bocor serta memperbaiki pipa intake.
“Kalau ada yang bolong, kita plaster. Sekarang juga sedang perbaikan pipa intake,” katanya.
Sugito berharap BWS segera merealisasikan perbaikan agar ketersediaan air bagi masyarakat tetap terjaga. Namun, terkait estimasi anggaran perbaikan, ia mengaku belum mengetahui secara pasti.
“Untuk estimasi anggaran, yang lebih paham BWS,” tambahnya. Sementara itu, pegawai PDAM Tirta Kepri, Taufik, menjelaskan bahwa kondisi normal ketinggian air Waduk Sei Jago biasanya mencapai sekitar 3 meter. “Biasanya normal sekitar 3 meter. Sekarang tinggal 40 sentimeter,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, PDAM terus berupaya menjaga layanan agar kebutuhan air warga Tanjunguban tetap terpenuhi. (***)
Reporter : SANDI PRAMOSINTO – MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY