Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan indikasi kuat bahwa material di kawasan sinkhole Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat (Sumbar), merupakan sisa endapan letusan gunung api pada masa lampau.
Temuan tersebut menegaskan bahwa fenomena amblesan tanah di wilayah tersebut tidak berkaitan dengan kawasan karst, melainkan dipengaruhi oleh karakter material vulkanik di bawah permukaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria menjelaskan, secara geologi wilayah Limapuluh Kota memang berada di zona vulkanik aktif Sumatera Barat. Kawasan tersebut telah lama dipengaruhi oleh endapan material dari sejumlah gunung api di sekitarnya.
“Wilayah Limapuluh Kota dan sekitarnya secara geologi berada dalam zona vulkanik aktif di Sumatera Barat, yang banyak dipengaruhi endapan dari beberapa gunung api di sekitarnya,” kata Lana kepada JawaPos.com (Batam Pos Group), Rabu (11/2).
Berdasarkan pengamatan visual dari sumuran uji di lokasi sinkhole, Badan Geologi mengidentifikasi material yang tersingkap sebagai produk aktivitas gunung api. Namun, Lana menegaskan bahwa kajian tersebut tidak diarahkan untuk menelusuri secara spesifik sumber letusan material tersebut.
“Material vulkanik yang teridentifikasi pada sinkhole Nagari Situjuah Batua, berdasarkan hasil pengamatan visual dari sumuran uji, merupakan produk aktivitas gunung api. Sumber letusannya belum dapat dipastikan dan tidak menjadi fokus utama kajian ini,” jelasnya.
Meski demikian, Lana mengungkapkan bahwa secara geografis Gunung Marapi merupakan gunung api aktif terdekat yang dikenal sebagai salah satu penyumbang utama endapan vulkanik di Sumatera Barat. Selain itu, Gunung Sago yang berjenis stratovolkano juga berpotensi menghasilkan endapan serupa.
“Secara geografis, gunung api terdekat adalah Gunung Marapi yang aktif dan menjadi salah satu sumber utama endapan vulkanik di Sumatera Barat. Gunung Sago juga dapat menghasilkan endapan vulkanik. Namun, analisis kami tidak diarahkan untuk menentukan asal material tersebut,” ujarnya.
Badan Geologi menilai kasus sinkhole di Situjuah memiliki karakter berbeda dibandingkan amblesan tanah pada umumnya yang lazim terjadi di kawasan berbatuan kapur atau karst. Di Situjuah, pembentukan sinkhole justru berkaitan dengan sifat material vulkanik yang lebih rentan terhadap pelapukan dan proses erosi bawah tanah.
“Hubungan antara endapan vulkanik dengan kejadian sinkhole di Situjuah menunjukkan bahwa fenomena ini berbeda dengan sinkhole pada umumnya di kawasan karst, melainkan berkaitan dengan karakter material vulkanik,” imbuh Lana.
Saat ini, pengujian laboratorium terhadap sampel material vulkanik masih berlangsung. Pengujian tersebut dilakukan untuk memahami proses erosi bawah permukaan yang diduga membentuk saluran sungai bawah tanah di kawasan tersebut.
“Pengujian laboratorium dilakukan bukan untuk menelusuri sumber letusan, tetapi untuk mengevaluasi proses erosi pada material vulkanik yang diduga berperan dalam pembentukan saluran sungai bawah tanah,” pungkasnya.
Rawan Amblesan
Fenomena sinkhole atau amblesan tanah ternyata tidak hanya terjadi di Situjuah Limo Nagari, Sumatera Barat. Peristiwa serupa sebelumnya juga tercatat di sejumlah daerah lain di Indonesia, terutama di kawasan dengan bentang alam karst atau batugamping.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), wilayah yang pernah mengalami sinkhole antara lain Gunung Kidul (DI Yogyakarta), Kebumen (Jawa Tengah), Maros (Sulawesi Selatan), Situjuah Limo Nagari (Sumatera Barat), serta Blitar dan Pacitan (Jawa Timur).
Fenomena ini umumnya terjadi di daerah yang terbentuk dari batu gamping. Amblesan muncul akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah setelah mengalami pelarutan dalam waktu lama.
Pada 2017, amblesan terjadi di Desa Semanu, Gunung Kidul, dengan diameter sekitar enam meter dan kedalaman tiga meter. Sinkhole tersebut terbentuk ketika air hujan menggenangi dolina—lekukan tertutup di permukaan akibat pelarutan batuan kapur—lalu menyusup ke rongga bawah tanah dan membawa lapisan tanah di atasnya runtuh.
Gunung Kidul sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah dengan intensitas sinkhole cukup tinggi. Kawasan ini termasuk dalam bentang alam Karst Gunungsewu yang terbentuk melalui proses pelarutan batu kapur selama ribuan tahun. Wilayah karst tersebut membentang dari Bantul, Gunung Kidul, Wonogiri, hingga Pacitan.
Meski menyuguhkan panorama alam berupa gua dengan stalaktit dan stalagmit yang indah, kawasan karst menyimpan risiko amblesan tanah yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Fenomena serupa juga terjadi di Desa Blembeng, Kebumen, pada 2023. Saat itu, sebuah telaga mengering akibat retakan yang membuka jalur air menuju sistem drainase bawah tanah.
Di tahun yang sama, peristiwa amblesan terjadi di Blitar ketika Sungai Kaliasat Tenggong mengering. Penyebabnya diduga runtuhnya gua bawah tanah yang menopang aliran air sungai. Peristiwa ini tidak hanya merusak ekosistem setempat, tetapi juga mengganggu pasokan air untuk irigasi.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), wilayah yang rentan mengalami sinkhole umumnya memiliki bentang alam karst atau lapisan batugamping tebal di bawah permukaan tanah. Proses terbentuknya berlangsung lama dan dipicu air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara maupun tanah.
“Air hujan meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping. Proses ini membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan. Ketika lapisan atapnya runtuh secara tiba-tiba, terbentuklah lubang di permukaan tanah yang dikenal sebagai sinkhole,” jelas Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari.
BRIN menyebut sejumlah wilayah yang dikenal rawan sinkhole antara lain Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros, yang secara geologi memiliki lapisan batugamping cukup tebal yang rawan ables, sehingga harus diwaspadai. (*)
LAPORAN: JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK