Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu (11/2) mengatakan bahwa Rusia dan Amerika Serikat sedang membahas perbedaan antara potensi perjanjian pengendalian senjata baru dan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) sebelumnya.
”Perjanjian START merupakan bagian penting dari (rezim non-proliferasi nuklir). Perjanjian ini akan berubah dibandingkan dengan sebelumnya, dan itu adalah bagian dari negosiasi yang sedang kami lakukan dengan Rusia,” kata Vance kepada wartawan sebelum meninggalkan Azerbaijan.
”Jadi, Anda tahu, kami akan terus berbicara dengan orang-orang. Kami akan terus berupaya membatasi proliferasi nuklir,” tambahnya.
Dia menambahkan bahwa penyebaran senjata nuklir ke lebih banyak negara akan menjadi skenario terburuk bagi Washington dan menyatakan keyakinannya untuk mencapai hasil positif dalam pembicaraan tersebut.
Sebagaimana diwartakan, perjanjian New START Rusia-AS berakhir pada 5 Februari lalu. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada tanggal tersebut bahwa Washington harus meminta para ahli nuklirnya untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan modern yang dapat bertahan lama di masa depan.
Trump menggambarkan bahwa perjanjian New START sebagai kesepakatan yang dinegosiasikan dengan buruk oleh AS.
Sebelumnya pada September, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa Rusia siap untuk terus mematuhi pembatasan Perjanjian New START selama satu tahun setelah 5
Februari 2026.
Dia menjelaskan bahwa langkah-langkah untuk mematuhi pembatasan perjanjian akan efektif jika Amerika Serikat membalasnya.
AS tidak mengeluarkan tanggapan resmi, sehingga pakta nuklir tersebut berakhir masa berlakunya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY