Buka konten ini

SUDAN (BP) – Konflik antarkomunitas di Negara Bagian Jonglei, Sudan Selatan, terus meningkat hingga menyebabkan warga sipil yang mengungsi sangat membutuhkan makanan, air, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan bahwa pertempuran semakin intensif di wilayah utara dan tengah Negara Bagian Jonglei, mengakibatkan pengungsian skala besar, menghambat distribusi bantuan, serta memicu terhentinya layanan-layanan esensial.
Lalu lintas jalur darat dan sungai ditutup, sementara penerbangan misi kemanusiaan juga dilarang.
”Gelombang pengungsian ini meningkatkan risiko penyebaran kolera, dengan 55 kasus dan tujuh kematian dilaporkan dalam sepekan di wilayah Ayod dan Duk,” ungkap OCHA.
Sejak 28 September 2024, Sudan Selatan telah melaporkan lebih dari 98.000 kasus kolera dan 1.600 lebih kematian di sembilan negara bagian. Penularan kolera kemungkinan akan meningkat menjelang musim hujan jika tim dan pasokan bantuan kemanusiaan terus dibatasi.
Selama akhir pekan, Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Anita Gbeho menyerukan kepada semua pihak untuk menghentikan pertempuran, melindungi warga sipil dan para pekerja kemanusiaan, serta menghentikan serangan terhadap aset-aset kemanusiaan.
Sejak akhir Desember lalu, otoritas setempat melaporkan bahwa kekerasan dan serangan udara yang kembali terjadi telah memaksa sekitar 280.000 orang mengungsi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY