Buka konten ini

BESARAN Uang Kuliah Tunggal (UKT) kerap membuat calon mahasiswa dan orang tua merasa cemas. Pasalnya, nominal UKT di perguruan tinggi negeri (PTN) tidak ditetapkan secara asal. Ada sejumlah aspek yang dianalisis kampus sebelum menentukan mahasiswa masuk ke kelompok pembayaran tertentu.
Agar tidak terkejut saat hasil penetapan UKT diumumkan, penting bagi calon mahasiswa memahami sejak awal faktor-faktor yang menjadi dasar penilaian. Dengan persiapan matang, kamu bisa menyiapkan dokumen pendukung, menghitung kemampuan ekonomi keluarga, hingga menyusun strategi dalam memilih program studi.
Berikut sejumlah pertimbangan yang umumnya digunakan dalam menentukan besaran UKT:
1. Penghasilan Orang Tua atau Wali
Pendapatan orang tua atau wali menjadi komponen utama dalam penetapan UKT. Kampus akan menilai besaran penghasilan bulanan atau tahunan sebagai dasar pengelompokan. Semakin besar pemasukan, biasanya semakin tinggi pula golongan UKT yang ditetapkan. Karena itu, data harus disampaikan sesuai dokumen resmi seperti slip gaji atau surat keterangan penghasilan agar tidak menimbulkan persoalan administratif.
2. Jumlah Tanggungan Keluarga
Banyaknya anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan turut diperhitungkan. Jika terdapat beberapa anak yang masih sekolah atau kuliah, beban ekonomi keluarga dianggap lebih besar. Kondisi ini bisa menjadi pertimbangan agar mahasiswa memperoleh UKT yang lebih proporsional.
3. Jenis dan Status Pekerjaan Orang Tua
Selain nominal penghasilan, jenis pekerjaan juga dinilai. Orang tua dengan penghasilan tetap dinilai memiliki kondisi finansial lebih stabil dibandingkan mereka yang bekerja secara harian atau tidak tetap. Perbedaan ini dapat memengaruhi penetapan kelompok UKT.
4. Kepemilikan Aset
Kampus tidak hanya melihat pendapatan, tetapi juga aset yang dimiliki keluarga, seperti rumah, kendaraan, tanah, atau properti lainnya. Aset bernilai tinggi dapat menjadi indikator kemampuan ekonomi yang lebih baik, sehingga berdampak pada besaran UKT.
5. Pengeluaran Rutin Keluarga
Biaya bulanan seperti listrik, air, kebutuhan pokok, cicilan, hingga pendidikan saudara kandung turut dianalisis. Data ini membantu kampus menilai kondisi keuangan secara menyeluruh, bukan sekadar melihat angka penghasilan kotor.
6. Program Studi yang Dipilih
Setiap jurusan memiliki kebutuhan fasilitas berbeda. Program studi seperti kedokteran, teknik, atau seni tertentu umumnya membutuhkan sarana lebih mahal dibandingkan jurusan lain. Karena itu, besaran UKT antarprogram studi dalam satu kampus bisa saja berbeda.
7. Kondisi Sosial Ekonomi Khusus
Status penerima bantuan sosial, pemegang KIP Kuliah, atau kondisi khusus seperti orang tua terkena PHK atau sakit berkepanjangan dapat menjadi bahan pertimbangan keringanan UKT. Kampus biasanya memberi ruang penyesuaian bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
8. Dokumen Pendukung Tambahan
Sejumlah PTN meminta bukti tambahan, seperti tagihan listrik, air, atau pajak, untuk memastikan kesesuaian data. Kelengkapan dan kejujuran dokumen sangat menentukan akurasi penetapan UKT.
9. Kebijakan Internal Perguruan Tinggi
Setiap kampus memiliki aturan tersendiri dalam menerapkan sistem UKT. Ada yang menggunakan skema subsidi silang, ada pula yang membuka jalur banding atau memberi keringanan bagi mahasiswa berprestasi. Memahami kebijakan kampus tujuan menjadi langkah penting sebelum mendaftar.
10. Lokasi dan Biaya Hidup
Asal daerah dan lokasi tempat tinggal mahasiswa juga dapat dipertimbangkan. Mahasiswa yang merantau ke kota dengan biaya hidup tinggi tentu memiliki beban tambahan, seperti kos, konsumsi, dan transportasi.
Pada dasarnya, sistem UKT dirancang agar pembiayaan kuliah lebih adil dan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing mahasiswa. Namun tanpa persiapan, hasil penetapan bisa terasa memberatkan. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : PUTUT ARIYO