Buka konten ini

BATUAMPAR (BP) – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melepas ekspor perdana arang batok kelapa sebanyak 36 ribu ton per tahun dari Pelabuhan Batu Ampar, Batam, menuju Tianjin, China, Selasa (10/2). Kerja sama tersebut memiliki nilai kontrak hampir Rp200 miliar per tahun dengan durasi kesepakatan selama satu tahun.
Ekspor ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar komoditas turunan kelapa sekaligus mendorong pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah. Program tersebut merupakan kolaborasi Kadin Indonesia bersama Kadin Kabupaten Indragiri Hilir, Kadin Batam, dan Kadin Provinsi Kepulauan Riau.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Frits Novianto Suhendar, menyebut pengiriman perdana itu sebagai langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi komoditas kelapa nasional. Menurut dia, ekspor tidak hanya membuka pasar baru, tetapi juga menggerakkan UMKM di daerah sentra produksi.
“Ekspor ini menjadi langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan UMKM daerah sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas kelapa nasional. UMKM di daerah ikut bergerak,” ujarnya.
Dalam kontrak payung tersebut, kebutuhan pengiriman diproyeksikan mencapai sekitar 125 kontainer per bulan atau 10 hingga 20 kontainer per minggu, bergantung pada kesiapan produksi. Volume itu akan dipenuhi secara bertahap sesuai kapasitas kelompok usaha yang terlibat.
Pada tahap awal, pengapalan difokuskan pada arang batok kelapa. Ke depan, kerja sama direncanakan diperluas mencakup komoditas turunan lain, seperti serabut kelapa dan produk olahan lainnya yang memiliki potensi pasar ekspor.
Frits menambahkan, kemitraan dengan perusahaan di China tidak sebatas transaksi jual beli. Kerja sama tersebut juga mencakup dukungan alih teknologi guna mempercepat proses produksi di dalam negeri.
“Dari China kami akan menerima dukungan transfer teknologi. Mereka mengirimkan peralatan untuk mempercepat proses produksi. Jadi bukan hanya ekspor barang, tetapi juga hilirisasi teknologi,” jelasnya.
Program ini melibatkan puluhan UMKM yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir. Basis produksi berasal dari kelompok usaha rumahan yang selama ini mengolah batok kelapa menjadi arang dalam skala terbatas.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha kecil. Aktivitas ekspor turut menggerakkan sektor penunjang, mulai dari perusahaan pelayaran, jasa pengurusan transportasi (forwarder), pengelola pelabuhan, hingga tenaga kerja bongkar muat. Rantai distribusi tersebut dinilai memberikan efek berganda terhadap perekonomian.
“Efek dominonya besar. Tidak hanya UMKM, seluruh rantai logistik ikut bergerak,” kata Frits.
Sementara itu, Batam ditetapkan sebagai pelabuhan ekspor utama karena dinilai memiliki infrastruktur dan fasilitas memadai serta posisi geografis yang strategis. Hingga kini, wilayah Riau belum memiliki sarana ekspor langsung dengan tingkat kesiapan serupa. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO