Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Dorongan menuju internasionalisasi pendidikan tinggi semakin terasa di tengah perubahan lanskap persaingan kerja dan pergerakan talenta di Asia. Perguruan tinggi kini tidak cukup hanya menawarkan gelar akademik, tetapi juga perlu membuka peluang kolaborasi lintas negara, pengalaman belajar dalam lingkungan multikultural, serta koneksi nyata dengan dunia industri.
Perubahan preferensi ini mulai menjadi pertimbangan utama calon mahasiswa dan orang tua dalam memilih kampus. Pergeseran tersebut tercermin dalam gelaran Pekan Pendidikan Tinggi Jakarta (PPTJ) 2026 yang berlangsung akhir pekan lalu di Balai Kartini, Jakarta.
Pameran ini menjadi wadah pertemuan antara sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk menangkap arah baru pendidikan tinggi, mulai dari penguatan jejaring akademik regional hingga metode pembelajaran yang lebih aplikatif.
Salah satu topik yang menonjol adalah meningkatnya kerja sama pendidikan di kawasan Asia Timur. Sejumlah kampus memaparkan program pertukaran mahasiswa, magang internasional, hingga kunjungan akademik ke Tiongkok, Jepang, Korea, dan Taiwan.
Skema tersebut dinilai penting dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan lintas budaya serta kesiapan menghadapi pasar kerja regional yang kian terintegrasi.
Selain aspek mobilitas global, hubungan antara pendidikan tinggi dan industri kreatif turut menjadi perhatian. Berbagai karya mahasiswa dan alumni dipamerkan sebagai gambaran kesinambungan antara proses akademik dan praktik profesional.
Kegiatan kolaboratif seperti mural langsung dan desain instalasi pameran memperlihatkan bahwa kampus kini berperan sebagai bagian dari ekosistem kreatif, bukan sekadar ruang belajar formal.
“Kolaborasi ini mempertemukan pembelajaran dengan praktik di lapangan. Harapannya dapat memberi inspirasi bagi siswa yang tengah menentukan pilihan pendidikan,” ujar perupa Melfri Gazza yang terlibat dalam salah satu sesi kolaborasi.
Pemanfaatan teknologi pembelajaran juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menjajal simulasi lingkungan kampus berbasis gim yang dikembangkan mahasiswa sebagai bagian dari proyek akademik.
Pendekatan imersif tersebut mencerminkan adaptasi kampus terhadap karakter generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO