Buka konten ini

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan Kota Batam berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga Maret mendatang. Kondisi ini berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, seperti Oktober, November, dan Januari, yang masih kerap diguyur hujan.
Peringatan tersebut disampaikan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam. Berdasarkan analisis BMKG, periode Februari hingga Maret masuk kategori sulit hujan. Kondisi ini berpotensi berdampak pada ketersediaan air baku di Batam yang sepenuhnya bergantung pada air hujan.

Forecaster BMKG Hang Nadim Batam, Noah Dirgantara Genting, mengatakan peluang hujan masih ada, namun bersifat lokal dengan intensitas rendah, tidak seperti bulan-bulan sebelumnya.
“Potensi hujan itu masih ada, tetapi sifatnya lokal dan tidak sebesar pada bulan-bulan sebelumnya,” ujar Noah kepada Batam Pos, Selasa (10/2) siang.
Menurut Noah, salah satu faktor utama sulitnya hujan di Batam saat ini adalah kecepatan angin yang cukup kuat. Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan hujan tidak maksimal karena awan cepat bergeser ke arah laut sebelum berkembang.
“Kecepatan angin yang cukup kuat menyebabkan pertumbuhan awan hujan di Batam berkurang. Awan-awan itu cepat bergeser ke arah lautan, sehingga peluang hujan menurun,” jelasnya.
Ia menegaskan kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai kemarau ekstrem. Namun, secara meteorologis, pertumbuhan awan hujan memang cenderung lebih sedikit hingga Maret.
“Peluang hujan sampai bulan Maret masih ada, tetapi kecil,” katanya.
Dari sisi suhu udara, Noah menyebut kondisi Batam masih berada pada kisaran normal, yakni antara 30 hingga 32 derajat Celsius. “Kalau dari suhu, masih normal,” ujarnya.
BMKG mencatat kesulitan hujan di Batam dipengaruhi oleh angin monsun yang bergerak ke arah Australia. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Namun, pada 2026 intensitas angin dinilai jauh lebih kuat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Setiap tahun memang ada perubahan cuaca di Kepulauan Riau. Namun, tahun ini yang paling terasa karena anginnya lebih kuat. Tahun-tahun sebelumnya ada, tetapi tidak sekuat Februari tahun ini,” kata Noah.
Meski kondisi terasa kering, Noah menilai suhu udara di Batam tidak terlalu panas karena angin bertiup cukup kencang.
“Februari ini terasa kering, tetapi tidak panas karena anginnya kuat,” ujarnya.
Berdasarkan data BMKG hampir 20 tahun terakhir, kondisi cuaca pada Februari tahun ini disebut sebagai salah satu yang paling kering dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Potensi hujan diperkirakan sangat minim, bahkan bisa tidak terjadi sama sekali hingga Maret.
Situasi tersebut menjadi perhatian serius mengingat ketersediaan air bersih di Batam sepenuhnya bergantung pada air hujan. Saat ini, sejumlah waduk di Batam dilaporkan mengalami penyusutan volume air rata-rata 2 hingga 3 sentimeter per hari.
“Kalau hujan turun dan waduk terisi penuh, tentu kebutuhan air bersih Batam dapat terpenuhi. Namun, dengan pertumbuhan awan hujan yang kecil, potensi pengisian waduk juga ikut berkurang,” kata Noah.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah antisipatif menghadapi potensi krisis air bersih apabila kondisi cuaca kering terus berlanjut hingga Maret.
Seperti diberitakan sebelumnya, Batam yang sepenuhnya bergantung pada air hujan melalui waduk dan daerah tangkapan air (DTA) kini menghadapi ancaman kekeringan akibat musim kering berkepanjangan.
Deputi Bidang Pelayanan Umum Badan Pengusahaan (BP) Batam, Ariastuty Sirait, menyampaikan hingga 31 Januari 2026 jumlah pelanggan Air Batam Hilir (ABH) telah mencapai 342.253 pelanggan. Dengan kondisi cuaca saat ini, BP Batam telah memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami gangguan suplai air.
“Dari hasil pemetaan, terdapat sekitar 28 wilayah yang membutuhkan layanan distribusi air menggunakan truk tangki, dengan kebutuhan sekitar 200 trip pengiriman. Itu pun belum termasuk permintaan tambahan melalui call center ABH,” ujar Ariastuty usai rapat persiapan pelayanan Ramadan di Kantor Wali Kota Batam, Senin (9/2) sore.
Saat ini, armada truk tangki yang tersedia berjumlah 21 unit. Namun, dalam sepekan terakhir, hanya 14 unit yang beroperasi secara efektif untuk melayani kebutuhan air di 28 wilayah terdampak.
“Kondisi ini jelas tidak ideal. Karena itu, kami menambah armada. Saat ini tersedia 21 unit, tetapi yang aktif hanya 14. Hingga 14 Februari nanti, total armada akan ditambah menjadi 34 unit untuk membantu distribusi air. Kami perkirakan cukup selama Ramadan,” kata Ariastuty.
Ia merinci armada tersebut terdiri atas 5 unit milik ABH, 5 unit milik BP Batam, 4 unit truk sewaan dari ABH, dan 7 unit truk sewaan dari BU SPAM. Selain itu, BP Batam juga menambah armada baru berupa truk yang dimodifikasi dengan tandon air, menyusul keterbatasan ketersediaan truk tangki di Batam.
“Dengan tambahan 11 unit armada baru dan 2 unit truk tangki impor, total armada menjadi 34 unit. Kami menilai jumlah ini dapat mencukupi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, berdasarkan laporan BMKG, Batam diperkirakan masih akan mengalami musim kering hingga Maret mendatang. Kondisi tersebut berdampak langsung pada volume air waduk yang terus menyusut.
“Rata-rata penyusutan air waduk mencapai 2 sampai 3 sentimeter per hari,” kata Ariastuty.
Ia memaparkan ketahanan air di sejumlah waduk Batam kini berada pada kondisi darurat.
Waduk Sei Harapan diperkirakan hanya mampu bertahan selama 1 bulan 8 hari, Waduk Nongsa 2 bulan 2 hari, Waduk Sei Ladi 4 bulan 13 hari, Waduk Muka Kuning–Duriangkang 5 bulan 1 hari, dan Waduk Tembesi 5 bulan 2 hari.
“Jika melihat angka-angka ini, berarti kita sudah masuk dalam situasi darurat,” tegasnya.
Menghadapi kemungkinan hujan yang belum turun dalam waktu dekat, BP Batam membuka opsi ikhtiar tambahan. Selain distribusi air melalui darat, upaya hujan buatan juga menjadi pertimbangan, meski biayanya cukup besar.
“Kita berharap selain ikhtiar doa, ada opsi hujan buatan. Namun, hujan buatan biayanya sangat mahal dan kami masih menunggu apakah BMKG dapat merekomendasikannya atau tidak,” ujarnya. (***)
LAPORAN : M SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK