Buka konten ini

BATUAJI (BP) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Bukit Mata Kucing, Batuaji, Kota Batam, yang berlangsung hampir lima hari akhirnya berhasil dipadamkan, setelah kobaran api nyaris merembet ke permukiman warga di Kibing serta rumah liar (ruli) Bumi Permai dan Bukit Rindang.
Api pertama kali muncul di Bukit Mata Kucing, kemudian merambat ke Bukit Kibing akibat tiupan angin utara yang kencang. Selama beberapa hari, si jago merah menghanguskan semak belukar dan menjalar dari satu bukit ke bukit lain. Bahkan, hampir satu bukit dilaporkan ludes terbakar sebelum api berhasil dikendalikan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Batam, Hendriani Agustini, memastikan api telah padam seluruhnya pada Senin (9/2). “Api sudah padam seluruhnya kemarin,” ujarnya, Selasa (10/2).
Ia menjelaskan, titik api tersebar di lebih dari satu lokasi. Proses pemadaman pun terkendala akses jalan yang tidak dapat dilalui mobil pemadam. Petugas terpaksa menyambung selang untuk menjangkau lokasi kebakaran.
“Kendalanya akses. Untuk menuju titik api harus sambung selang,” katanya.
Kepala Bidang Operasional Damkar Batam, Andi, menambahkan pihaknya turun ke lokasi sejak Minggu (8/2) malam. Tujuh unit mobil pemadam, termasuk bantuan dari BP Batam, dikerahkan. Namun, kendaraan hanya bisa bertahan sekitar 200 meter dari rumah warga karena medan terjal.
“Unit tidak bisa naik ke puncak. Kami fokus melindungi permukiman agar api tidak merembet,” jelas Andi.
Petugas bahkan berjaga semalaman tanpa istirahat demi memastikan api tidak menjalar ke rumah-rumah warga. Untuk menjangkau titik api, hingga 25 selang pemadam harus disambung.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun rumah warga yang terbakar. Api hanya menghanguskan semak belukar serta beberapa pondok kebun di jalur perambatan. Meski demikian, luas area yang terbakar masih dalam pendataan.
Terkait penyebab kebakaran, Andi menyebut masih dalam penyelidikan. Dugaan sementara mengarah pada aktivitas pembukaan lahan. “Informasi soal pembukaan lahan masih kami dalami,” tegasnya.
Warga Bukit Permai, Juliani Lobang, menduga kebakaran terjadi akibat unsur kesengajaan. Ia menilai api muncul berulang selama lima hari. “Kami melihat ada oknum yang sengaja membakar. Saat petugas berjaga semalaman, besoknya api tidak muncul,” ujarnya.
Kapolsek Batuaji AKP Bayu Rizki Subagyo mengatakan kebakaran diduga merupakan rembetan dari titik api di Mata Kucing yang kemudian menjalar ke perbukitan belakang Taman Lestari, Kibing. “Kami masih menyelidiki penyebab pastinya. Diduga api menjalar dari Mata Kucing,” ujarnya.
Bayu memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. “Tidak ada rumah warga yang terbakar. Yang terdampak hanya kebun dan kawasan hutan,” katanya.
Kesehatan Warga Terdampak Asap
Di tengah proses pemadaman, asap pekat sempat mengganggu kesehatan warga sekitar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengimbau masyarakat menggunakan masker dan membatasi aktivitas luar ruangan.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, menjelaskan asap kebakaran mengandung partikel berbahaya seperti PM10, karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, hingga senyawa volatil (VOC) yang berisiko mengganggu saluran pernapasan.
“Partikel halus dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Bahkan bisa memperburuk asma dan menghambat pengangkutan oksigen dalam tubuh,” jelasnya.
Warga yang mengalami gejala batuk, sesak napas, mata perih, atau pusing diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Komandan Regu Manggala Agni, Edi, menyebut petugas memprioritaskan titik api yang paling dekat dengan permukiman. “Api sudah mendekati rumah warga, jadi fokus kami di titik itu,” ujarnya.
Kini, setelah lima hari berjibaku dengan api yang sempat padam lalu menyala kembali, kebakaran dinyatakan terkendali. Meski demikian, aparat dan instansi terkait mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tetap waspada di tengah cuaca kering dan angin kencang yang berpotensi memicu kebakaran baru. (*)
Reporter : M. SYA’BAN – RENGGA YULIANDRA – YOFI YUHENDRI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO