Buka konten ini

TEMUAN karung berisi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di perairan Desa Belungkur, Kecamatan Lingga Utara, Kabupaten Lingga, terus bertambah. Tidak hanya ditemukan di Pantai Dungun, puluhan karung serupa juga terdeteksi di tiga pantai lain yang masih berada di wilayah Desa Belungkur.
Kepala Desa Belungkur, Arif Rafandi, mengatakan karung-karung tersebut ditemukan di sejumlah titik berbeda. “Selain di Pantai Dungun, karung yang sama juga ditemukan di Pantai Karang Batu, Pantai Laboh Ujung, dan Pantai Bokelang,” ujar Arif, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, hingga kini karung yang berhasil diamankan baru berasal dari kawasan Pantai Dungun. Proses pengamanan dilakukan oleh pemerintah desa bersama masyarakat dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lingga.
“Yang baru bisa kami amankan sementara ini baru di Pantai Dungun dan belum semuanya. Masih banyak karung yang berserakan di pantai,” ungkapnya.
Arif memperkirakan jumlah karung yang terdampar di empat pantai tersebut mencapai lebih dari 100 buah. Sebagian di antaranya bahkan sudah pecah akibat menghantam batu karang.
“Kalau ditotal di empat pantai itu, perkiraannya lebih dari 100 karung. Ada juga yang sudah pecah,” katanya.
Ia mengakui, upaya pemindahan seluruh karung tersebut terkendala biaya operasional. Pemerintah desa tidak memiliki anggaran untuk menyewa kapal pengangkut (kaisir) guna membawa limbah ke lokasi yang lebih aman.
“Kami dari pemerintah desa tidak memiliki anggaran operasional. Warga bisa membantu mengumpulkan karung di tepi pantai, tapi untuk memindahkannya ke tempat aman tetap membutuhkan bantuan kapal,” jelasnya.
Meski kondisi perairan saat ini masih relatif aman, masyarakat berharap karung-karung tersebut segera diamankan agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem laut dan mata pencaharian warga pesisir.
“Kami berharap limbah ini segera ditangani agar tidak merugikan masyarakat,” pungkas Arif.
Ansar: Tangkap Pelaku
Sementara itu, kapal pembuang limbah minyak hitam yang mencemari perairan Kabupaten Bintan dan Lingga diminta untuk ditindak tegas. Limbah tersebut dinilai merusak ekosistem laut dan berdampak langsung pada sektor pariwisata.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menegaskan pencemaran lingkungan akibat limbah minyak hitam merupakan persoalan berulang yang terjadi hampir setiap tahun dan telah dibahas hingga ke tingkat pemerintah pusat.
“Sudah dirapatkan sampai ke pemerintah pusat, tetapi hasilnya belum maksimal,” kata Ansar, Senin (9/2).
Ia meminta aparat penjaga perairan, termasuk TNI AL dan instansi terkait lainnya, untuk melakukan pengawasan secara intensif. Menurutnya, pencemaran tersebut telah memicu keluhan wisatawan.
“Ini sangat merugikan kita. Turis komplain karena kalau sudah terkena minyak, sangat sulit dibersihkan. Ekosistem laut juga bisa rusak,” tegasnya.
Ansar menilai kapal yang kedapatan membuang limbah di perairan Kepri harus ditangkap dan pelakunya diberi sanksi tegas agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Namun, hingga kini sumber pasti limbah tersebut belum dapat dipastikan, apakah berasal dari Batam, Johor, atau Singapura, lantaran belum ditemukan bukti yang cukup.
“Mereka biasanya membuang limbah pada tengah malam. Karena itu pengawasan harus diperketat,” tambahnya.
Sementara itu, Pegiat Aliansi Lingkungan dan Manusia (ALIM) Kepulauan Riau menilai pencemaran limbah minyak hitam di pesisir Pantai Trikora, Bintan, hingga Lingga harus diusut secara menyeluruh.
Menurut pegiat ALIM Kepri, Kherjuli, pencemaran tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap sektor pariwisata dan kelestarian ekosistem laut di kawasan unggulan Kepri.
“Tumpahan minyak bukan hanya mengganggu wisata, tapi juga mengancam biota laut seperti ikan, ketam, dan organisme laut lainnya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung aspek geopolitik dalam kasus tersebut. “Dari sisi geopolitik, negara seolah belum berhasil mencegah kejahatan lingkungan lintas negara, baik di perairan internasional maupun perairan dalam negeri,” katanya. (***)
Reporter : VATAWARI
Editor : GUSTIA BENNY