Buka konten ini

JAKARTA (BP) – BCA Expoversary 2026 tak hanya menjadi ajang untuk nasabah PT Bank Central Asia Tbk menikmati berbagai promo dan penawaran jelang puncakulang tahun perusahaan. Acara ini juga merupakan ruang bagi seluruh individu dan komunitas yang diberdayakan Bakti BCA memperlihatkan karya dan produk/layanannya kepada berbagai segmen nasabah.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menjelaskan, Bakti BCA merupakan praktik Corporate Shared Value perusahaan untuk tumbuh bersama komunitas. Fokusnya bukan sekadar memberikan bantuan sesaat, melainkan perjalanan panjang membangun manusia, komunitas, hingga ekosistem yang berdaya.
“Istilahnya journey, dari membangun individunya, lalu komunitas, sampai ekosistem,” ujar Hera kepada wartawan, Jumat (6/2).
Pendekatan CSV BCA diterjemahkan dalam lima pilar Bakti BCA. Pada ranah individu, BCA menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi utama. Dua pilar ini merupakan prasyarat dasar agar manusia Indonesia memiliki daya saing dan peluang berkembang.
Pada ranah komunitas pengembangan desa wisata dan lingkungan menjadi fokus. Hingga kini, BCA membina 28 desa wisata di berbagai daerah. Salah satunya, Desa Wisata Tebara di Praijing, Sumba, yang baru saja meraih pengakuan sebagai desa wisata terbaik di Asia Tenggara.
Pengunjung BCA Expoversary dapat menyaksikan atraksi budaya, permainan tradisional, hingga cerita tentang kehidupan masyarakat Tebara yang secara langsung hadir di pameran.“Kami ingin pengunjung merasakan langsung experience-nya,” kata Hera.
Bakti BCA juga menaruh perhatian besar pada UMKM selaku tulang punggung ekonomi nasional. BCA memberi ruang bagi pelaku UMKM binaan di BCA Expoversary untuk memperluas akses pasar sekaligus membangun kepercayaan diri.
Salah satu program Bakti BCA untuk UMKM adalah sertifikasi halal gratis. Hingga 2025 lalu, sekitar 2.000 UMKM telah memperoleh sertifikat halal melalui program Bakti BCA. Hasil evaluasi menunjukkan dampak langsung sertifikasi terhadap peningkatan penjualan dan perluasan pasar UMKM.
Selain itu, BCA mendorong UMKM naik kelas melalui program BCA Go Export. Memanfaatkan jejaring mitra dalam dan luar negeri, pelaku usaha dibimbing memahami standar ekspor hingga kesiapan produk agar mampu menembus pasar internasional.
“Targetnya jelas, penjualan dan pendapatan mereka naik,” ujar Hera.
Di sisi pembiayaan, BCA secara konsisten memperkuat dukungan terhadap sektor UMKM. Kredit UMKM menempati porsi hampir 20 persen dari total pembiayaan, sementara kredit berkelanjutan—termasuk green financing—mencapai sekitar 25 persen. Angka ini mencerminkan keberpihakan BCA terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Bakti BCA tidak hanya berbicara soal bantuan finansial. Pendekatan yang digunakan juga berbasis kebutuhan. Setiap komunitas diperlakukan berbeda, disesuaikan dengan karakter, budaya, dan potensi lokal.
Salah satunya melalui Pelatihan Wastra Warna Alam. Tiana, perwakilan kelompok penenun binaan Bakti BCA asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, menjadi contohnya. Dia datang ke BCA Expoversary 2026 membawa kain tenun berbahan pewarna alami yang seluruh prosesnya dikerjakanmanual. Akar kayu hingga tumbuhan lokal digunakan sebagai sumber warna kain tersebut, menjadikan setiap lembar kain memiliki karakter khas.
Pendampingan Bakti BCA bagi kelompok penenun ini telah berjalan selama tiga tahun. Prosesnya bertahap, dari penguatan teknik pewarnaan alam, pemasaran, hingga pembentukan koperasi konsumen yang memiliki legalitas formal. “Sekarang kami sudah punya koperasi,” ujar Tiana.
Semangat serupa diperlihatkan Precious One, yayasan pemberdayaan disabilitas yang berkolaborasi dengan Bakti BCA. Melalui produk-produk buatan tangan seperti tas, aksesori, hingga karya seni, Precious One membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dan keluarga mereka. Kolaborasi dengan Bakti BCA memberi ruang tampil di pameran serta akses pelatihan, termasuk peluang ekspor.
“Kami ingin karya disabilitas dibeli karena kualitas, bukan kasihan,” kata Partnership Development Precious One, Lina.
Dari Pekalongan, Kampung Batik Gemah Sumilir turut membawa wastra dan batik, termasuk batik ramah lingkungan berbasis warna alam. Sebagai desa binaan Bakti BCA sejak 2016, kampung batik ini merasakan dampak pendampingan yang menyentuh aspek kreativitas, kelembagaan, hingga akses pasar. Pelibatan dalam berbagai event BCA menjadi salah satu pintu memperluas jejaring.
“Pendampingannya bukan hanya produksi, tapi juga organisasi dan pasar,” ujar Amin Maizun, perwakilan Kampung Batik Gemah Sumilir. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI