Buka konten ini

LINGGA (BP) – Masyarakat Desa Lanjut, Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, menggelar Haul Jama’ atau dzikir dan doa bersama di penghujung bulan Syaban 1447 Hijriah. Kegiatan ini berlangsung di Surau Nurul Yaqin, Kampung Air Merah, Minggu (8/2), mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai.
Haul Jama’ merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga oleh masyarakat Lingga, khususnya di Kecamatan Singkep Pesisir. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang masuknya bulan suci Ramadan.
Di Kecamatan Singkep Pesisir, pelaksanaan haul jama’ dilakukan secara bergiliran di setiap masjid dan surau yang ada di desa-desa hingga mendekati awal Ramadan.
Ketua Surau Nurul Yaqin, Encek Azhar, mengatakan haul jama’ atau dzikir dan doa bersama bertujuan mendoakan para pendahulu yang telah wafat agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Kegiatan ini berupa haul jama’ atau dzikir dan doa bersama untuk mendoakan nenek moyang, orang tua, keluarga, serta seluruh umat muslim yang telah meninggal dunia agar diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya, dan diangkat siksa kuburnya,” ujar Encek Azhar.
Selain sebagai sarana ibadah, kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga dalam menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat juga saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan,” jelasnya.
Encek Azhar menambahkan, setelah pelaksanaan dzikir dan doa bersama, seluruh jamaah yang hadir akan makan bersama dengan hidangan yang telah disiapkan dalam suasana kebersamaan.
“Usai dzikir dan doa bersama, jamaah disuguhkan makanan yang disajikan menggunakan talam sehidang. Ini merupakan ciri khas masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga,” tambahnya.
Hidangan tersebut berasal dari sumbangan masyarakat sekitar yang memiliki kelebihan rezeki, yang dihantarkan ke masjid atau surau sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian sosial.
Selain di Kecamatan Singkep Pesisir, tradisi haul jama’ juga masih dilaksanakan di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Lingga. Tradisi ini diharapkan terus lestari sebagai warisan budaya nenek moyang yang mempererat kebersamaan masyarakat dari generasi ke generasi. (*)
Reporter : VATAWARI
Editor : GUSTIA BENNY