Buka konten ini

BATAM (BP) – Rencana pengoperasian transportasi cepat AirFish pada rute Singapura–Batam, yang diklaim mampu memangkas waktu tempuh menjadi sekitar 25 menit, hingga kini belum masuk dalam pembahasan resmi pemerintah daerah. Meski dinilai berpotensi mendukung konektivitas dan sektor pariwisata, proyek tersebut masih sebatas rencana dari pihak pengembang.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, mengatakan belum ada kerja sama maupun pengajuan perizinan terkait pengoperasian moda transportasi berbasis teknologi wing in ground (WIG) effect tersebut di wilayah Kepri.
“AirFish yang dikabarkan dapat menempuh perjalanan Singapura–Batam sekitar 25 menit itu belum memiliki kerja sama apa pun dengan pemerintah provinsi. Sampai sekarang belum ada pembicaraan resmi,” kata Hasan, Jumat (6/2).
Menurut dia, teknologi AirFish tergolong baru sehingga memerlukan kajian menyeluruh serta proses perizinan yang ketat, terutama terkait aspek keselamatan, kepelabuhanan, dan regulasi lintas negara.
“Ini bukan transportasi biasa. Perizinannya cukup berat, hampir sama seperti kapal yacht, sehingga tidak bisa serta-merta dioperasikan,” ujarnya.
Hasan menambahkan, pemerintah daerah belum dapat memastikan apakah AirFish nantinya dapat beroperasi di Batam maupun melayani rute internasional Singapura–Batam, mengingat hingga kini belum ada pengajuan resmi dari pihak pengembang.
“Jika ke depan ada pengajuan secara resmi, tentu akan kami kaji sesuai aturan yang berlaku. Namun saat ini belum ada,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menyebutkan bahwa hingga kini layanan transportasi penumpang Batam–Singapura masih dilayani oleh kapal feri.
“Belum ada rencana menggunakan moda transportasi tersebut,” ujarnya singkat.
Meski belum ada kepastian operasional, kehadiran AirFish dinilai berpotensi menjadi alternatif transportasi lintas negara yang lebih cepat dan efisien. Waktu tempuh yang lebih singkat diyakini dapat mendukung mobilitas wisatawan dan pelaku usaha antara Singapura dan Batam, khususnya untuk mendorong kunjungan wisata akhir pekan.
AirFish merupakan kendaraan laut berteknologi WIG yang memanfaatkan efek aerodinamis di atas permukaan air untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Kendaraan ini lepas landas dari permukaan air dan bergerak rendah di atas laut, sehingga mampu memangkas waktu tempuh dibandingkan feri konvensional.
Rencana pengoperasian AirFish diumumkan oleh ST Engineering AirX—unit usaha patungan antara perusahaan teknologi asal Singapura, ST Engineering, dan startup Peluca—bersama operator feri BatamFast dalam ajang Singapore Airshow 2026. Layanan penumpang Singapura–Batam ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua 2026. Namun, realisasi rute tersebut masih menunggu persetujuan regulasi serta sertifikasi akhir dari otoritas terkait di kedua negara.
AirFish dirancang mampu mengangkut delapan hingga 10 penumpang termasuk awak. Saat ini, unit kendaraan masih dalam tahap perakitan di Singapura. (*)
LAPORAN : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR