Buka konten ini

GEMPA berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) yang berpusat di tenggara Pacitan, Jumat (6/2) dini hari, menimbulkan kepanikan luas dan merenggut satu korban jiwa. Puluhan warga di Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Tengah (Jateng) mengalami luka-luka. Sejumlah rumah dan fasilitas umum pun rusak.
Di Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, suasana mencekam terjadi sekitar pukul 01.06 WIB. Warga berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri saat guncangan kuat terasa. Salah satunya Joko Santoso, 53.
Nahas, Joko terjatuh saat berusaha menyelamatkan diri hingga tak sadarkan diri. Warga segera membawanya ke UGD Puskesmas Ngadirojo. Namun, nyawanya tak tertolong. Sekitar pukul 01.30 WIB, ia dinyatakan meninggal dunia.
“Berdasarkan keterangan keluarga, korban memiliki riwayat hipertensi dan sering mengeluh pusing,” ujar Kepala UPT Puskesmas Ngadirojo, dr Rini Endrawati.
Berdasarkan data BMKG, gempa berjenis megathrust itu berpusat di koordinat 8,99 Lintang Selatan dan 111,18 Bujur Timur atau sekitar 90 kilometer tenggara Pacitan, dengan kedalaman 10 kilometer. Kedalaman yang tergolong dangkal membuat getarannya terasa kuat di berbagai daerah.
Dalam rentang tujuh jam pascagempa utama, tercatat 37 kali gempa susulan hingga pukul 07.27 WIB. Dampaknya signifikan. Selain korban jiwa, puluhan warga mengalami luka dan harus menjalani perawatan.
Di Pacitan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sedikitnya 15 bangunan rusak. “Datanya terus diperbarui dan berpotensi bertambah,” kata Kalaksa BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko.
Salah satu rumah terdampak milik Lilik Dwi, warga Dusun Ngaglik, Desa Menadi, Kecamatan Pacitan. Dinding rumahnya ambrol, atap dapur roboh. Beruntung, tidak ada korban tertimpa reruntuhan.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turun langsung meninjau lokasi terdampak. Pemkab, kata dia, akan mengupayakan rehabilitasi rumah warga yang rusak dan mengoordinasikan penanganan lanjutan.
Dampak Meluas ke DIY dan Jateng
Guncangan juga terasa kuat di Ponorogo. BPBD setempat mencatat empat rumah dan satu gudang roboh serta satu masjid rusak. Kerusakan tersebar di lima titik, antara lain Kelurahan Surodikraman, Desa Nglewan, Desa Bogem, Desa Gombang, dan Kelurahan Singosaren.
Di Kelurahan Surodikraman, Paniyem, 64, nyaris tertimbun puing rumahnya yang ambruk. Saat gempa terjadi, ia masih duduk di atas kasur. “Saya diteriaki tetangga untuk keluar. Baru sampai pintu, temboknya ambruk,” tuturnya.
Di DIY, kerusakan terparah terjadi di Bantul. Sedikitnya 13 bangunan rusak, terdiri atas tujuh rumah, dua tempat ibadah, satu fasilitas pemerintahan, dua fasilitas pendidikan, dan satu fasilitas kesehatan. “Sebanyak 15 warga menjalani perawatan akibat luka, ada yang patah tulang hingga pingsan,” ujar Kalaksa BPBD Bantul Mujahid Amrudin.
Secara keseluruhan di wilayah DIY, sedikitnya 40 orang menjalani perawatan akibat luka-luka. Namun, tidak ada korban jiwa. “Untuk korban meninggal tidak ada,” ucap Kalaksa BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata.
Di Jateng, dampak gempa dilaporkan antara lain di Karanganyar, Wonogiri, dan sejumlah daerah lain. Di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, beberapa rumah rusak, termasuk bangunan SD Negeri 3 Beruk. “Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD untuk penanganan,” ujar Camat Jatiyoso, Mahmud Aziz Arifin.
Kepala BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, menjelaskan, mayoritas kerusakan terjadi pada bangunan lama yang tidak menggunakan penguat struktur sehingga rentan terhadap getaran.
Sementara di Wonogiri, gempa merusak rumah warga, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga kantor. Di SMK PGRI 2 Wonogiri dan Puskesmas Jatisrono serta Pracimantoro, bangunan dilaporkan mengalami kerusakan. Kantor DPC PDIP Wonogiri juga terdampak. “Sekitar 200 genting jatuh dan plafon lantai dua rusak,” kata Ketua DPC PDIP, Wonogiri Sriyono.
BPBD Wonogiri membagi personel ke sejumlah titik terdampak untuk melakukan asesmen dan penanganan darurat.
Empat Kereta Sempat Dihentikan
Dampak gempa juga merembet ke sektor transportasi. Empat perjalanan kereta api tujuan Malang dihentikan sementara, yakni KA Ijen Ekspres relasi Bangil–Malang dan Ketapang–Malang, KA 2527 (Limasdan Cargo), serta KA Matarmaja relasi Pasarsenen–Malang.
“Penghentian sementara dilakukan untuk memastikan keselamatan seluruh pelanggan,” ujar Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono. (***)
LAPORAN: JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO