Buka konten ini

Kesehatan serviks memegang peranan penting dalam menjaga kualitas hidup perempuan, namun sering kali kurang mendapat perhatian. Padahal, serviks berfungsi vital dalam sistem reproduksi dan rentan terhadap berbagai penyakit serius. Dengan mengenali kesehatan serviks sejak dini melalui edukasi dan pemeriksaan rutin, perempuan dapat mencegah risiko penyakit serta menjalani hidup yang lebih sehat dan berkualitas.

KESADARAN menjaga kesehatan serviks menjadi langkah penting bagi perempuan untuk mempertahankan kualitas hidup. Hal ini disampaikan dr Hendry Liem, Sp.OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Awal Bros Batam, dalam rangka Bulan Kesadaran Kesehatan Serviks yang disiarkan langsung di Instagram halloawalbros.
Menurut dr Hendry, masih banyak perempuan, datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi sudah lanjut karena kurang memahami tanda awal gangguan serviks. Padahal, keterlambatan penanganan sangat memengaruhi keberhasilan pengobatan dan prognosis pasien.
Serviks atau mulut rahim merupakan bagian bawah rahim yang menjadi “pintu masuk” berbagai infeksi, termasuk Human Papillomavirus (HPV). Virus inilah yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
“Yang harus benar-benar dilindungi adalah mulut rahim. Dari sanalah infeksi HPV bisa masuk dan memicu perubahan sel yang berujung kanker,” jelas dr Hendry.
Perubahan awal pada sel serviks disebut lesi pra-kanker. Kondisi ini belum menjadi kanker, namun dapat berkembang menjadi kanker serviks jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Gejala Awal Sering Diabaikan
Salah satu tantangan kanker serviks adalah gejalanya yang sering tidak khas atau bahkan tanpa keluhan. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai, antara lain:
– Keputihan berulang, jumlah banyak, berbau, berubah warna, disertai gatal
– Keputihan bercampur darah
– Perdarahan atau flek setelah berhubungan intim
– Keputihan normal biasanya jernih, tidak berbau, jumlah sedikit, dan tidak menimbulkan keluhan. Jika keputihan berulang dan disertai perubahan mencolok, sebaiknya segera memeriksakan diri.
Pentingnya Skrining Rutin
Deteksi dini menjadi kunci pencegahan kanker serviks. Salah satunya melalui pemeriksaan Pap Smear yang dianjurkan dilakukan setahun sekali pada perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual.
Pap Smear bertujuan menilai apakah terdapat perubahan atau kerusakan sel epitel pada serviks akibat infeksi HPV. Dari pemeriksaan ini, dokter dapat mengetahui apakah pasien berada pada tahap:
– Lesi pra-kanker tingkat 1
– Lesi pra-kanker tingkat 2
– Lesi pra-kanker tingkat 3
“Proses perubahan dari lesi pra-kanker hingga menjadi kanker bisa memakan waktu 5–10 tahun. Jika tertangkap di tahap awal, pengobatannya lebih sederhana dan peluang sembuh sangat tinggi,” kata dr. Hendry.
Sebaliknya, jika pasien datang dalam kondisi kanker stadium lanjut, pilihan terapi menjadi lebih kompleks, seperti kombinasi kemoterapi dan radioterapi, bahkan tidak lagi dapat dioperasi.

Pemeriksaan HPV dan Vaksinasi
Selain Pap Smear, kini tersedia pemeriksaan DNA HPV untuk mengetahui apakah virus HPV sudah ada di tubuh, baik tipe risiko rendah maupun risiko tinggi.
“Hasil Pap Smear bisa saja normal, tetapi virus HPV sudah ada. Itu artinya belum sepenuhnya aman,” jelasnya.
Oleh karena itu, kombinasi Pap Smear dan tes HPV dinilai lebih optimal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi aman, langkah pencegahan dapat diperkuat dengan vaksin HPV.
Vaksin berfungsi membentuk kekebalan tubuh agar mampu mengenali dan melawan virus HPV sebelum merusak sel serviks.
Gaya Hidup Juga Berpengaruh
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko gangguan serviks antara lain:
– Berganti-ganti pasangan seksual
– Menikah atau aktif secara seksual di usia sangat muda
– Merokok
– Memiliki banyak anak
“Rokok menurunkan daya tahan tubuh sehingga memudahkan infeksi berkembang,” ujarnya.
Namun, dr Hendry menegaskan bahwa pemeriksaan tetap dianjurkan bagi semua perempuan yang sudah aktif secara seksual, karena risiko juga dapat berasal dari pasangan.
dr Hendry menegaskan bahwa kesehatan serviks sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup perempuan, baik sebagai individu, istri, maupun ibu. Dengan mengenali gejala sejak dini, rutin skrining, dan melakukan vaksinasi, kanker serviks dapat dicegah.
“Tujuan utama kita adalah mencegah sebelum terjadi. Semakin dini diketahui, semakin baik hasil pengobatannya,” kata dr Hendry.
Dia mengatakan kanker serviks masih menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan perempuan. Padahal, penyakit ini dapat dicegah dan dideteksi sejak dini melalui vaksinasi serta pemeriksaan rutin.
dr. Hendry menjelaskan bahwa vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) idealnya diberikan sejak usia dini. “Vaksin HPV sudah bisa diberikan mulai usia 9 tahun. Ini penting sebagai upaya pencegahan sejak awal,” ujar dr. Hendry.
Ia menegaskan, perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual dianjurkan untuk mendapatkan vaksin HPV. Sementara itu, bagi perempuan yang sudah pernah berhubungan seksual, selain vaksinasi, juga perlu melakukan pemeriksaan serviks secara berkala.
Menurut dr. Hendry, gangguan pada serviks sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup perempuan, termasuk kehidupan seksual.
“Jika seorang perempuan mengalami perdarahan saat atau di luar hubungan seksual, tentu kualitas hidup dan kualitas hubungan intimnya akan menurun,” jelasnya.
Pada kondisi yang lebih berat, terutama jika sudah memasuki stadium lanjut, penderita bahkan bisa mengalami nyeri hebat hingga tidak dapat berhubungan seksual sama sekali.
Bukan Faktor Genetik
Ia menegaskan, kanker serviks bukan penyakit keturunan. “Kanker serviks murni disebabkan oleh infeksi virus HPV, bukan faktor genetik,” tegasnya.
Risiko infeksi HPV meningkat pada perempuan yang aktif secara seksual, memiliki pasangan seksual berganti-ganti, serta dipengaruhi faktor lain seperti kebiasaan merokok.
Peran Skrining dari Layanan Dasar
Upaya pencegahan kanker serviks saat ini terus digalakkan melalui layanan kesehatan dasar, mulai dari posyandu hingga puskesmas.
Salah satu metode skrining yang paling sederhana adalah tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih di puskesmas.
“Tes IVA adalah skrining awal sebelum pap smear. Dengan cairan khusus, petugas bisa melihat secara langsung apakah ada perubahan pada leher rahim,” jelas dr. Hendry.
Jika ditemukan kecurigaan, pasien akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan seperti pap smear, yang menilai perubahan sel secara mikroskopis.
Penanganan Bergantung Stadium
Dr. Hendry menjelaskan, semakin dini kanker serviks terdeteksi, semakin besar peluang kesembuhan.
“Pada stadium lanjut, seperti stadium 2B ke atas, tindakan operasi tidak lagi memungkinkan. Penanganan dilakukan dengan kombinasi kemoterapi dan radioterapi,” katanya.
Karena itu, keterlambatan diagnosis sangat memengaruhi keberhasilan pengobatan.
Vaksin Tetap Bisa Diberikan
Menjawab pertanyaan masyarakat, dr. Hendry menyebutkan bahwa vaksin HPV tetap bisa diberikan pada perempuan yang sudah pernah berhubungan seksual, selama masih aktif secara seksual.
“Secara umum, vaksin masih dapat diberikan hingga usia sekitar 54 tahun,” jelasnya.
Untuk remaja, pencegahan dilakukan melalui edukasi dan komunikasi yang baik dalam keluarga. “Peran orang tua sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan pergaulan yang sehat,” ujarnya.
Tiga Langkah Penting Pencegahan
Sebagai penutup, secara keseluruhan upaya pencegahan kanker serviks dapat dilakukan melalui tiga langkah utama.
“Yang simpel, pertama kenali gejala sejak dini, kalau mengalami keputihan harus lebih peduli pada diri sendiri, terutama dengan mengamati perubahan keputihan. Kedua, melakukan skrining secara berkala melalui tes IVA, Pap smear, dan pemeriksaan HPV. Ketiga, langkah yang tak kalah penting adalah vaksinasi HPV,” kata dr Hendry.
Vaksinasi berfungsi sebagai benteng perlindungan tubuh terhadap infeksi HPV. Dengan vaksin, hasil pemeriksaan Pap smear diharapkan tetap baik, tidak ditemukan kelainan, dan hasil tes HPV negatif.
“Pada akhirnya, langkah-langkah pencegahan ini dapat membantu perempuan menjaga kesehatan reproduksi dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL