Buka konten ini

ALIRAN air bersih di Kampung Tua Tanjungsengkuang, Kecamatan Batu Ampar, kembali terhenti sejak Selasa (3/2), sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Sejumlah rumah dilaporkan tidak lagi menerima suplai air, memaksa masyarakat mencari alternatif, termasuk mengandalkan distribusi air tangki.
Salah seorang warga, Siti Khodijah, mengatakan sebelumnya air sempat mengalir setelah adanya aksi demonstrasi warga. Namun, aliran tersebut hanya berlangsung pada malam hari dan dalam waktu terbatas.
“Waktu itu air sempat mengalir, tapi cuma malam hari, sekitar pukul satu sampai pukul empat subuh, atau paling telat pukul dua sampai pukul lima pagi. Setelah itu seharian mati,” ujarnya, Kamis (5/2) sore.
Menurut dia, meski hanya mengalir beberapa jam pada dini hari, kondisi tersebut masih cukup membantu karena warga dapat menampung air untuk kebutuhan harian. Namun, dalam dua hari terakhir, suplai air benar-benar terhenti.
“Sekarang sudah dua hari ini air benar-benar tidak mengalir. Jadi makin susah. Kami terpaksa minta bantuan air dari tangki yang dikirim pihak ABH,” katanya.
Ia menambahkan, distribusi air tangki pun tidak mudah diperoleh. Banyaknya permintaan membuat warga harus mengantre.
“Yang minta air banyak, jadi harus menunggu. Kalau bisa, kami berharap air setidaknya tetap mengalir walau malam hari supaya bisa ditampung. Jangan sampai tidak mengalir sama sekali,” harapnya.
Sementara itu, Ketua RW 02 Kampung Tua Tanjungsengkuang, Moddin Liwang, menyebut kondisi aliran air di wilayahnya relatif normal dibandingkan titik lainnya.
“Lumayan seperti biasa. Kalau airnya kurang, dibantu air tangki,” ujarnya.
Menurut Moddin, air umumnya mengalir lancar pada malam hari sekitar pukul 22.00 hingga pagi, meski debitnya mengecil pada siang hari.
“Siangnya masih agak kecil,” katanya.
Ia menjelaskan, kebutuhan warga yang belum teraliri air telah diakomodasi melalui pengiriman tangki. Dalam sehari, permintaan bisa mencapai tujuh hingga sembilan tangki, tergantung kebutuhan, dan dikoordinasikan melalui pengurus RT dan RW setempat.
Menanggapi keluhan tersebut, Humas Air Batam Hilir (ABH) Ginda Alamsyah mengatakan pihaknya tengah mengoptimalkan sistem penyeimbangan distribusi air di wilayah Tanjungsengkuang.
“Kami sedang berusaha mengoptimalkan kembali sistem penyeimbangan di sana. Selain itu, wilayah Tanjungsengkuang juga kami bantu dengan pengiriman air tangki,” ujarnya.
Menurut dia, meski distribusi belum sepenuhnya normal, ABH berkomitmen memenuhi kebutuhan warga melalui suplai air bersih menggunakan tangki.
“Tetap kami optimalkan. Walaupun air belum mengalir, kebutuhan warga kami bantu lewat tangki. Berapa pun kebutuhannya akan kami akomodasi melalui pemesanan lewat RT, RW, dan perangkat setempat,” katanya.
Di tempat terpisah, Kepala BP Batam Amsakar Achmad menegaskan bahwa penyediaan air bersih menjadi salah satu prioritas pembenahan. Ia menargetkan persoalan air mulai menunjukkan perbaikan signifikan pada 2026.
“Soal air juga masuk prioritas, termasuk juga instalasi dan sebagainya. Saya mau 2026 isu air ini sudah mulai baik, dan itu akan baik kalau pelayanan terhadap masyarakatnya juga baik,” ujarnya.
Penegasan tersebut disampaikan usai seluruh kedeputian mempresentasikan rencana kerja tahun 2027 dalam rapat internal yang berlangsung sehari penuh, Rabu (4/2). Menurut Amsakar, arah kerja otorita harus berpijak pada visi dan misi yang terukur, realistis, serta selaras dengan agenda pembangunan nasional.
Ia menekankan sedikitnya empat hal utama. Pertama, seluruh program dan kegiatan harus selaras dengan visi, misi, serta target strategis BP Batam. Kedua, setiap kegiatan wajib memiliki indikator kinerja utama yang jelas dan terukur.
“Harus ada indikator kinerja utama pada masing-masing kegiatan yang kita buat,” ujarnya.
Ketiga, seluruh usulan program akan kembali dibahas di tingkat deputi untuk disesuaikan dengan kemampuan anggaran tahun 2027. Ia mengingatkan agar perencanaan tidak terlepas dari realitas fiskal.
“Semua usulan ini akan digodok kembali di level deputi yang disesuaikan dengan besaran anggaran yang mungkin dapat kita capai di tahun 2027. Sebab kalau perencanaan kita besar, anggaran kita tidak ada, tidak ada guna,” katanya.
Keempat, ia memberi penekanan pada target pertumbuhan ekonomi Batam. Sesuai target RPJMN, pertumbuhan ekonomi daerah idealnya berada 1,5 hingga 2 persen di atas pertumbuhan nasional.
“Untuk mencapai itu perlu investasi yang baik. Untuk mendapatkan investasi yang baik, tata kelola pelayanan perizinannya juga harus betul-betul serius,” ujar Amsakar.
Ia juga menyoroti proses pengambilalihan sejumlah kewenangan perizinan dari Kementerian/Lembaga yang belum sepenuhnya tuntas. Hal tersebut harus segera diselesaikan agar pelayanan menjadi lebih efektif.
“Kalau sekarang ini masih belum selesai pengambilalihan dari Kementerian/Lembaga, ada beberapa yang harus dikejar. Kalau rentang waktunya masih cukup panjang, harus diperpendek. Kalau syarat dan prosedurnya masih berbelit-belit, harus disederhanakan,” tegasnya.
Menurut dia, arah kebijakan BP Batam harus selaras dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, termasuk pembenahan tata kota, peningkatan investasi, penyelesaian persoalan persampahan, serta penertiban reklame dan iklan berukuran besar.
“Intinya BP Batam harus selaras dengan Astacita Presiden. Seluruh program di daerah yang sejalan dengan tupoksi BP Batam juga harus kita prioritaskan,” ujarnya. (***)
Reporter : M. SYA’BAN – ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO