Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Ketersediaan air bersih di Pulau Bajau, khususnya Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama menjelang musim kemarau. Pada periode ini, pasokan air bersih warga sangat bergantung pada keberadaan embung.
Air bersih menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan. Keterbatasan pasokan air tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berpotensi memicu persoalan kesehatan.
Untuk memastikan kesiapan infrastruktur air bersih, Camat Siantan Timur, Lilik Widodo, melakukan peninjauan langsung ke dua titik embung di Desa Nyamuk, Kamis (5/2). Peninjauan tersebut dilakukan guna melihat kondisi dan daya dukung embung dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat selama musim kemarau.
Dua embung yang ditinjau yakni embung yang dikelola Pemerintah Desa Nyamuk serta embung yang dibangun pemerintah pusat melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SPAMSIMAS).
Lilik Widodo menjelaskan, embung yang dikelola pemerintah desa secara fisik berada dalam kondisi cukup baik. Area embung telah dipagari sehingga dapat meminimalkan risiko masuknya hewan yang berpotensi mencemari air.
Selain itu, sistem penyaluran air dari embung desa ke rumah warga menggunakan sistem gravitasi. Dengan sistem ini, air dapat mengalir tanpa bantuan mesin pompa, sehingga tidak membutuhkan biaya operasional tambahan.
“Ini tentu menguntungkan masyarakat karena biaya pengelolaan bisa ditekan, sementara pelayanan air bersih tetap berjalan,” ujar Lilik.
Namun, pada kondisi tertentu, terutama saat musim kemarau, air dari embung desa harus dialirkan dan ditampung terlebih dahulu di penampungan SPAMSIMAS sebelum didistribusikan ke warga.
Meski jaringan antara embung desa dan SPAMSIMAS telah saling terhubung, Lilik menyebut penampungan SPAMSIMAS tersebut belum dilengkapi dengan sistem pengolahan air yang memadai.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar kualitas air yang dikonsumsi masyarakat benar-benar memenuhi standar,” jelasnya.
Berdasarkan data pengelola air bersih, saat ini sekitar 300 kepala keluarga di Desa Nyamuk tercatat sebagai pelanggan. Dengan tarif Rp4.000 per meter kubik, layanan tersebut menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan air bersih warga.
Jika rata-rata kebutuhan air per kepala keluarga mencapai 200 liter per hari, maka total kebutuhan air masyarakat Desa Nyamuk mencapai sekitar 60.000 liter atau setara 60 ton air bersih setiap hari.
Untuk meningkatkan kualitas dan ketersediaan air, pihak kecamatan mendorong pemerintah desa agar sebagian dana iuran air yang masuk ke Pendapatan Asli Desa dapat diinvestasikan, tidak hanya untuk pemeliharaan, tetapi juga untuk pembangunan bak penampungan air.
Menurut Lilik, keberadaan bak penampungan sangat penting agar air dapat diolah terlebih dahulu sebelum disalurkan ke masyarakat. Selain itu, bak penampungan juga berfungsi sebagai cadangan air saat musim kemarau.
“Tanpa bak penampungan, stok air hanya mampu bertahan sekitar lima hari. Jika tersedia bak penampungan, cadangan air bisa bertahan hingga sepuluh hari,” ungkapnya.
Dalam peninjauan tersebut, Camat Siantan Timur juga melihat embung Desa Nyamuk yang dibangun menggunakan dana APBN melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Wilayah IV Batam dengan anggaran sekitar Rp24 miliar. Namun, embung tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena mengalami kebocoran dan sejumlah kendala teknis.
Lilik Widodo menyatakan pihak kecamatan akan melaporkan kondisi tersebut kepada pimpinan daerah serta bersurat kepada Bupati dan Dinas Pekerjaan Umum agar dapat dikoordinasikan dengan BWS Batam. Ia berharap perbaikan segera dilakukan sehingga embung dapat berfungsi maksimal dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Desa Nyamuk. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY