Buka konten ini
NONGSA (BP) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Kepulauan Riau (Kepri) masih akan didominasi cuaca kering hingga akhir Februari 2026. Potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi diperkirakan baru mulai muncul pada Maret dan meningkat signifikan pada Mei mendatang.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, mengatakan, meski saat ini telah memasuki periode kemarau, hujan tetap berpeluang terjadi. Namun, intensitasnya cenderung ringan dan tidak merata.
“Dalam musim kemarau tetap ada hujan, tetapi intensitasnya ringan, hujan tipis dan tidak seperti saat musim hujan,” kata Ramlan, Rabu (4/2).
Ia menjelaskan, Februari menjadi salah satu bulan dengan curah hujan terendah dalam setahun. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan Februari tahun lalu yang masih sesekali diguyur hujan.
“Februari ini curah hujannya rendah. Tahun lalu masih ada hujan sesekali, sekarang jauh berkurang,” ujarnya.
Menurut Ramlan, kondisi cuaca kering saat ini turut dipengaruhi faktor global dan regional. Di antaranya fenomena La Nina lemah serta dinamika atmosfer yang memicu lebih sering terbentuknya bibit siklon di wilayah selatan ekuator.
“Bibit siklon lebih sering terbentuk di selatan, seperti di selatan Jawa. Hal ini menyebabkan massa udara lebih banyak tertarik ke wilayah selatan sehingga wilayah utara, termasuk Kepri, relatif lebih kering,” jelasnya.
BMKG mencatat, sebagian besar wilayah Kepri telah mengalami lebih dari 15 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut sudah masuk kategori musim kemarau atau musim kering dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran lahan. Meski demikian, hingga saat ini belum terdeteksi adanya titik panas (hotspot) di wilayah Kepri.
“Titik panas berbeda dengan titik api. Saat ini memang belum terdeteksi titik panas di Kepri. Namun karena kekeringan diperkirakan meningkat hingga akhir Februari, potensi kebakaran lahan dan hutan juga ikut meningkat,” tegas Ramlan.
Ia menambahkan, tingkat kekeringan di setiap wilayah bisa berbeda, tergantung pada kondisi tutupan lahan, suhu udara, kelembapan, dan kecepatan angin.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama terkait ketersediaan air dan potensi kebakaran.
“Pada musim kemarau, ketersediaan air tanah umumnya berkurang. Kami juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di kawasan perkebunan, lahan kosong, dan area yang mudah terbakar,” katanya.
Ramlan juga menyoroti sejumlah kejadian kebakaran lahan yang sempat terjadi di Batam dalam beberapa waktu terakhir, termasuk laporan dua titik kebakaran pada malam sebelumnya.
“Pembakaran kecil sekalipun harus diawasi. Banyak kejadian api ditinggal lalu meluas. Ini yang harus dihindari,” ujarnya.
Terkait perkembangan cuaca ke depan, Ramlan menyebut peluang hujan mulai muncul kembali pada awal Maret dengan intensitas yang perlahan meningkat.
“Mulai Maret potensi hujan sudah ada, dan intensitasnya akan meningkat lagi pada Mei,” pungkasnya. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO