Buka konten ini

Pintu Museum Perbatasan Tiangau terbuka perlahan. Derap langkah kecil para pelajar SD Negeri 007 Sedak mendadak terhenti.
DI ambang pintu itu, waktu seolah melambat. Mata-mata kecil membesar, napas tertahan. Mereka tidak sedang memasuki ruang biasa—mereka sedang melangkah ke masa lalu.
Museum yang biasanya sunyi mendadak hidup oleh bisik-bisik polos dan decak kagum. Sejarah, yang selama ini hanya hadir lewat gambar di buku pelajaran, kini berdiri nyata di hadapan mereka. Diam, berdebu, tapi penuh cerita.
Anak-anak itu bergerombol, saling mendahului ingin melihat lebih dekat. Ada yang berjinjit, ada yang menunjuk sambil bertanya pelan. Benda-benda tua yang tersusun rapi menjadi saksi zaman yang tak pernah mereka alami, namun kini mereka saksikan dengan mata sendiri.
Peralatan peninggalan masa penjajahan Belanda menjadi magnet utama. Anak-anak terpaku, mencoba membayangkan kehidupan orang-orang di masa lalu—hidup tanpa listrik, tanpa gawai, tanpa layar sentuh yang kini begitu akrab dengan keseharian mereka.
Di dinding museum, deretan foto hitam putih mencuri perhatian. Di sana, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Muhammad Hatta, tampak melakukan kunjungan kerja ke Jemaja. Foto-foto itu seperti membuka jendela waktu, menghubungkan masa kecil mereka hari ini dengan sejarah besar bangsa.
“Begini ya museum itu. Baru tahu kalau Pak Hatta pernah ke tempat kita,” ujar Hanafi, salah satu pelajar, dengan logat Melayu tempatan yang kental.
Nada suaranya sederhana, tapi ada kebanggaan yang tumbuh diam-diam. Sejarah nasional ternyata pernah singgah di kampung halaman mereka.
Di sudut lain, sebuah mesin tik tua berdiri bisu. Anak-anak menatapnya heran. Mereka menebak-nebak fungsinya, membayangkan bunyi ketukan keras yang dulu mengisi ruangan-ruangan penting. Jari-jari kecil nyaris menyentuh tuts yang kini tak lagi bersuara.
Bagi Hanafi dan kawan-kawannya, pengalaman ini terasa jauh berbeda dari pelajaran di kelas. Selama ini sejarah hanyalah hafalan tahun dan nama tokoh. Di museum, sejarah menjelma pengalaman—bukan untuk dihafal, tapi dirasakan.
“Senang lah bisa datang ke museum. Walaupun jauh nyebrang pakai pompong,” ucap Hanafi sambil tersenyum.
Cuaca Bagus, Angin tak Kencang
Perjalanan menyebrangi laut dengan pompong justru menjadi bagian dari pelajaran itu sendiri. Debur ombak dan angin laut yang bersahabat mengantar mereka menuju ruang belajar tanpa dinding, tanpa papan tulis.
Guru pendamping, Gamari, menyebut kunjungan ini sebagai pembelajaran lapangan setelah materi sejarah disampaikan di sekolah. Ia ingin anak-anak tak hanya memahami sejarah secara teori, tetapi juga merasakannya secara emosional.
“Biar anak-anak tahu kalau museum itu tempat menyimpan benda-benda bersejarah,” kata Gamari.
Menurutnya, dengan melihat langsung peninggalan masa lalu, imajinasi dan rasa ingin tahu siswa tumbuh lebih kuat. Sejarah tak lagi terasa jauh dan asing.
Gamari berharap pengalaman pertama ini membekas lama di ingatan anak-anak. Suatu hari, ketika mereka dewasa, kenangan tentang museum ini bisa menjadi alasan untuk menjaga dan menghargai sejarah daerahnya sendiri.
Ia pun berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas ke depan dapat membangun Museum Daerah. Anambas, menurutnya, menyimpan banyak kisah yang layak dirawat dan diwariskan.
“Kalau ada museum daerah milik pemerintah, sejarah Anambas bisa lebih terjaga. Anak-anak kita juga tak perlu jauh-jauh belajar sejarah,” ujarnya. Sore itu, para pelajar melangkah keluar museum dengan mata masih berbinar. Mereka pulang membawa lebih dari sekadar foto di ponsel. Mereka membawa cerita, rasa bangga, dan kesadaran baru bahwa sejarah bukan hanya milik buku pelajaran, tetapi hidup di tanah tempat mereka berpijak. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY