Buka konten ini

KUALA LUMPUR (BP) – Sidang Dewan Rakyat Malaysia yang membahas isu perbatasan Indonesia–Malaysia di Kuala Lumpur, Rabu (4/2), diwarnai perdebatan antara sejumlah anggota parlemen dengan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim.
Perdebatan yang muncul bukan berkaitan langsung dengan substansi persoalan perbatasan, melainkan soal tudingan “pengkhianat” yang disebut Anwar sempat diarahkan kepadanya oleh kelompok oposisi melalui pemberitaan media.
Dalam pemaparannya, Anwar lebih dulu menjelaskan perkembangan isu perbatasan RI–Malaysia secara terperinci. Ia menegaskan, persoalan batas negara harus disikapi secara bijak dengan mengedepankan data serta menjaga hubungan baik kedua negara.
“Jadi sebab itu harus merujuk angka dan data,” kata Anwar dikutip dari Antara.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan apresiasi kepada seluruh petugas dan otoritas Malaysia maupun Indonesia yang telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengukuran garis batas serta berdialog terkait perbatasan negara.
Namun, Anwar menyayangkan sikap sebagian anggota oposisi yang menurutnya hanya melontarkan kritik tanpa dasar, bahkan menuding dirinya sebagai pengkhianat negara.
“Kenyataan menghina, biadab itu ada. Kalau tidak tahu, itu tanya, jangan memaki dan berteriak,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memicu interupsi dari sejumlah anggota parlemen oposisi. Mereka keberatan disebut memaki dan berteriak, serta menilai pernyataan Anwar tidak pantas disampaikan di forum parlemen.
Padahal, sejak awal sidang, Ketua Dewan Rakyat Malaysia Johari bin Abdul telah mengingatkan bahwa agenda sidang hanya mendengarkan penjelasan Perdana Menteri secara satu arah. Sementara tanggapan dan perdebatan dijadwalkan pada agenda berikutnya.
Anggota oposisi menegaskan, mereka hanya meminta penjelasan pemerintah Malaysia terkait isu perbatasan, terutama berdasarkan keterangan yang sebelumnya disampaikan oleh otoritas Indonesia.
Menanggapi interupsi tersebut, Anwar menegaskan bahwa ia ingin meluruskan dan membantah keras tudingan yang menyebut dirinya berkhianat dalam penanganan isu perbatasan.
Sidang sempat memanas sebelum akhirnya dapat dilanjutkan setelah Ketua Dewan Rakyat meminta seluruh anggota untuk menenangkan diri.
Anwar kemudian menutup penjelasannya dengan menekankan pentingnya menyampaikan kepentingan negara, termasuk isu perbatasan, secara bijak dan bertanggung jawab. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY