Buka konten ini

DINAS Perhubungan (Dishub) Kota Batam mengakui masih banyak halte lama yang membutuhkan pembenahan, di tengah pembangunan 10 unit halte baru sepanjang 2025 dengan total anggaran sekitar Rp900 juta.
Kepala Unit Pelayanan Transportasi Darat (UPTD) Dishub Batam, Bambang Sucipto, mengatakan, perbaikan ringan tetap dilakukan setiap tahun secara bertahap. Namun, program renovasi besar belum berjalan menyeluruh.
“Kami tetap turun ke lapangan, cek kondisi, dan lakukan perbaikan sambil berjalan,” ujarnya.
Di lapangan, sejumlah warga menilai kondisi halte saat ini masih memprihatinkan. Bangku patah, atap bocor, ukuran sempit, hingga coretan vandalisme masih ditemukan di berbagai titik.
“Saya lewat dari Batam Center menuju RSUD Batuaji, cukup prihatin. Banyak halte lama kondisinya seperti gudang sampah, kotor, penuh coretan, tidak ada estetika. Tapi di dekatnya malah dibangun halte baru,” ujar Nur, warga Batam Center, Rabu (2/2).
Menurut Bambang, kondisi paling mencolok terdapat di wilayah Piayu dan Seibeduk. Di kawasan tersebut, sekitar 10 unit halte masih digunakan masyarakat meski fasilitasnya dinilai jauh dari layak, baik dari sisi kenyamanan maupun perlindungan dari hujan dan panas. “Nanti akan kita lakukan renovasi tahunan, dari Batuaji sampai Seibeduk,” katanya.
Sementara itu, rencana pembangunan halte di depan kawasan K-Square belum terealisasi karena direncanakan menggunakan skema corporate social responsibility (CSR) dari pihak pengelola kawasan. Meski komitmen sempat disampaikan akan dilakukan pada November hingga Desember 2025, hingga kini realisasinya belum terlihat.
“Itu akan kita tagih lagi. Janjinya memang akhir tahun kemarin,” tegas Bambang.
Dishub juga menyebut halte di Batam menjadi salah satu sumber pendapatan daerah melalui pemasangan iklan. Setiap iklan dikenakan tarif Rp100 ribu per meter persegi per bulan, dengan sistem pembayaran sesuai luas dan durasi pemasangan.
“Semua iklan di halte itu berbayar per bulan, sesuai luas dan lama pemasangannya,” jelasnya.
Sepanjang 2025, Dishub telah merealisasikan pembangunan 10 halte baru dengan anggaran rata-rata sekitar Rp90 juta per unit. Halte tersebut ditempatkan di jalur dengan tingkat mobilitas tinggi dan titik naik-turun penumpang yang sebelumnya belum memiliki fasilitas memadai.
Beberapa di antaranya berada di depan Stasiun Temenggung Abdul Jamal (Pandawa) serta dua titik di wilayah Batu Aji, termasuk depan Putri Hijau 1. Selain itu, halte baru juga dibangun di depan Politeknik Negeri Batam, Plamo Garden (seberang SPBU), Bundaran Tembesi, Basecamp arah Tanjunguncang, Bambu Kuning, Puskopkar, pertokoan Shangrila, hingga Batu Besar.
Meski demikian, warga berharap pembangunan halte baru diiringi dengan penataan desain yang lebih baik. Salah satu sorotan muncul pada halte di kawasan Stadion Temenggung Abdul Jamal, di mana penempatan papan iklan dinilai mengganggu ruang gerak penumpang.
“Seharusnya iklan itu di atas atau di samping, bukan di area duduk. Haltenya saja sudah seadanya, ini malah makin sempit. Jujur, tidak mencerminkan kota modern,” tutup Nur. (***)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO