Buka konten ini

KEBAHAGIAAN kerap dipandang sebagai tujuan besar yang sulit dicapai. Namun, temuan psikologi modern justru menunjukkan sebaliknya. Rasa bahagia lebih sering lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam keseharian.
Orang-orang yang tampak benar-benar bahagia bukan karena hidup mereka tanpa masalah, melainkan karena mampu merawat pikiran, tubuh, dan relasi sosial melalui hal-hal sederhana namun bermakna.
Berikut enam kebiasaan yang kerap ditemui pada individu dengan tingkat kebahagiaan lebih tinggi, sebagaimana dirangkum dari laman Global English Editing, Senin (2/2):
1. Meluangkan waktu bersama alam
Mereka yang bahagia biasanya menyempatkan diri berinteraksi dengan alam, meski dalam durasi singkat. Aktivitasnya bisa berupa berjalan santai di sekitar rumah, duduk di taman, atau sekadar menghirup udara segar dari jendela.
Sejumlah riset menunjukkan, menghabiskan waktu minimal 120 menit per minggu di lingkungan alami berkaitan dengan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Studi dalam Frontiers in Psychology mencatat, paparan alam secara rutin mampu menurunkan kadar hormon stres kortisol serta memperbaiki suasana hati. Bahkan kontak singkat dengan ruang hijau sudah cukup memberi efek menenangkan bagi otak.
2. Melatih rasa syukur secara sadar
Individu yang bahagia tidak menunggu kondisi hidup ideal untuk bersyukur. Mereka membiasakan diri mengapresiasi hal-hal kecil yang berjalan baik setiap hari.
Para pakar menyebut, praktik syukur berkontribusi menurunkan risiko depresi dan kecemasan, memperbaiki kesehatan jantung, mengurangi stres, serta meningkatkan kualitas tidur. Penelitian dalam Journal of Positive Psychology juga menemukan, kebiasaan bersyukur harian berkaitan dengan meningkatnya kebahagiaan dan berkurangnya gejala depresi. Dengan bersyukur, otak dilatih fokus pada kecukupan, bukan kekurangan.
3. Aktif bergerak setiap hari
Orang yang bahagia tidak selalu identik dengan rutinitas olahraga berat. Namun, mereka konsisten menggerakkan tubuh melalui aktivitas ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau mengerjakan pekerjaan rumah.
Studi The Lancet Psychiatry menunjukkan adanya hubungan kuat antara aktivitas fisik rutin dan kesehatan mental yang lebih baik. Dalam keseharian, kebiasaan ini kerap muncul secara alami, misalnya memilih tangga daripada lift, berjalan sambil menelepon, atau melakukan peregangan di sela aktivitas kerja.
4. Membangun hubungan yang bermakna
Kebahagiaan tidak hanya berpusat pada diri sendiri, tetapi juga pada kualitas relasi dengan orang lain. Individu bahagia cenderung memiliki hubungan sosial yang hangat meski jumlahnya tidak banyak.
Penelitian dalam Journal of Happiness Studies mengungkapkan, kualitas hubungan sosial lebih berpengaruh terhadap kebahagiaan dibandingkan banyaknya teman. Hal ini tercermin dari kebiasaan mendengarkan dengan penuh perhatian, meluangkan waktu berbincang tanpa gangguan gawai, atau menanyakan kabar dengan tulus.
5. Menjaga kualitas tidur
Tidur bukan hal yang mudah dikorbankan oleh orang-orang bahagia. Mereka menyadari bahwa tidur cukup dan teratur berperan besar dalam menjaga suasana hati dan kejernihan berpikir.
Riset di Sleep Health Journal menunjukkan, pola tidur yang baik berkaitan langsung dengan stabilitas emosi dan kepuasan hidup. Sebaliknya, kurang tidur membuat otak lebih sensitif terhadap tekanan dan stres.
6. Menghargai momen dengan penuh kesadaran
Individu bahagia tidak selalu menjalani hidup dengan tergesa-gesa. Mereka mampu hadir sepenuhnya dalam momen-momen kecil, seperti menikmati secangkir kopi pagi atau merasakan hangatnya sinar matahari sore.
Dalam praktik sehari-hari, kesadaran ini dapat diwujudkan dengan makan tanpa distraksi, mengatur napas saat stres, atau benar-benar menikmati percakapan tanpa terburu waktu. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO