Buka konten ini

(Foto Kanan) ILUSTRASI seduhan Teh Prendjak di cangkir. Foto: Yusnadi Nazar/Batam Pos
Di tengah ketatnya persaingan industri dan tingginya biaya logistik, pabrik Teh Prendjak memilih jalan berat: meninggalkan kota tempat ia tumbuh selama puluhan tahun demi bertahan di pasar nasional. Namun, meski mesin produksi akan berpindah ke Jawa, aroma Teh Prendjak dipastikan tetap mengalir di cangkir-cangkir warga Kepri.
BAGI Adi Utama, warga Batuampar, Kota Batam, kabar kepindahan pabrik Teh Prendjak terasa sedikit mengganjal di hati. Penikmat teh itu mengaku ada perasaan “agak jauh” ketika mendengar pabrik teh yang aromanya akrab sejak lama kini tak lagi berada di Kepri.
“Saya bukan peminum kopi.
Pagi hari sebelum beraktivitas, saya malah minum teh, biasanya Teh Prendjak. Aromanya khas,” ujar Adi, mengenang kebiasaan sederhana yang selama ini menemani rutinitas paginya.
Perasaan Adi Utama bukan tanpa alasan. Teh Prendjak bukan sekadar minuman baginya, tetapi bagian dari ritme hidup orang Kepri yang tumbuh bersama produk-produk lokal. Meski kini hanya bisa membayangkan pabriknya dari jauh, Adi memilih percaya bahwa rasa dan aroma yang ia kenal tak akan ikut berpindah. “Yang penting tehnya masih ada. Selama rasanya sama, saya tetap minum,” katanya, lirih.
Keyakinan itu pula yang coba dijaga PT Panca Rasa Pratama, produsen Teh Prendjak, ketika memutuskan merelokasi fasilitas pabrik dari Kota Tanjungpinang, Kepri ke Kendal, Jawa Tengah. Keputusan tersebut diambil bukan tanpa pertimbangan emosional. Di balik kalkulasi bisnis dan efisiensi logistik, ada kesadaran bahwa Teh Prendjak telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Kepri selama puluhan tahun.
Regional Manager PT Panca Rasa Pratama, Mustardi, menyebut relokasi pabrik merupakan langkah yang tak terelakkan untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah persaingan industri yang kian ketat. Biaya logistik bahan baku yang selama ini harus didatangkan dari Jawa ke Kepri, lalu didistribusikan kembali ke pasar besar di Jawa, menjadi beban yang semakin sulit ditekan.
“Kalau produk jadi dikirim dari Jawa ke Kepri, biayanya masih lebih masuk akal dibanding bahan baku dari Jawa ke Kepri, lalu produk jadinya kembali ke Jawa,” ujar Mustardi, Jumat (30/1).
Namun ia menegaskan, perpindahan pabrik tidak berarti meninggalkan pasar Kepri. Produk Teh Prendjak tetap dipastikan beredar di Tanjungpinang, Batam, dan wilayah Kepulauan Riau lainnya. Distribusi lokal tetap berjalan seperti biasa, menjaga agar konsumen lama tak merasa ditinggalkan.
Mustardi tak menampik, kondisi iklim ekonomi di Tanjungpinang dalam beberapa waktu terakhir ikut memengaruhi keputusan tersebut. Investasi yang melambat dan tantangan operasional membuat perusahaan harus mengambil langkah strategis agar tetap bertahan dan berkembang.
“Kami ini perusahaan lokal. Pendirinya putra daerah. Bertahan di Kepri itu bukan pilihan, tapi komitmen sejak awal,” katanya.
Namun dunia usaha, lanjutnya, menuntut adaptasi. Untuk bisa menembus pasar nasional bahkan ekspor, perusahaan harus berada lebih dekat dengan sumber bahan baku dan pasar besar. Relokasi ke Kendal—tepatnya di Desa Gondang, Kecamatan Cepiring—dinilai paling rasional secara bisnis.
Jika berjalan sesuai rencana, pabrik baru Teh Prendjak ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal IV 2026. Pabrik tersebut akan disokong kerja sama dengan kebun teh di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang juga membuka peluang pengembangan agrowisata Teh Prendjak di Jawa Tengah.
“Kalau ada karyawan yang bersedia ikut pindah, kami persilakan. Tentu dengan segala konsekuensi dan kondisi di sana,” ujar Mustardi.
Dukungan pemerintah daerah di Kendal dan Batang menjadi faktor penting lainnya. Proses perizinan dipermudah, promosi produk dibantu melalui berbagai agenda daerah, bahkan Teh Prendjak diarahkan menjadi salah satu produk unggulan yang digunakan instansi pemerintah setempat.
“Alhamdulillah, Pemkab Kendal dan Batang sangat mendukung,” ucapnya.
Meski begitu, Mustardi mengakui, meninggalkan Tanjungpinang bukan perkara ringan. Lebih dari 40 tahun, Teh Prendjak tumbuh dan berkembang di tanah Kepri, sejak generasi pertama pendirinya, yang akrab disapa Pak Chua atau Pak Panjang. Perjalanan panjang itu juga menjadi bagian dari sejarah ekonomi daerah, jauh sebelum Kepulauan Riau berdiri sebagai provinsi.
“Kami berharap pemerintah daerah tetap memberi perhatian pada pelaku usaha lokal dan UMKM. Penegakan aturan yang berpihak pada masyarakat itu penting supaya ekonomi daerah tetap bergerak,” katanya.
Bagi konsumen seperti Adi Utama, harapan itu sederhana. Selama aroma khas seduhan Teh Prendjak masih menguar di pagi hari, jarak geografis bukan soal besar. “Pabriknya boleh jauh, tapi rasanya jangan berubah,” ujarnya sambil tersenyum.
Dan di sanalah, barangkali, ikatan antara produk lokal dan warganya tetap terjaga meski roda industri terus bergerak mencari daya saing yang lebih luas. (*)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK