Buka konten ini

DI tengah maraknya pembayaran digital yang praktis, masih banyak individu yang tetap memilih transaksi tunai. Pilihan ini sering dianggap kuno, padahal di baliknya tersimpan alasan pribadi yang mendalam. Mereka bukan sekadar menolak teknologi baru, melainkan memiliki pertimbangan tersendiri dalam menjalani aktivitas finansial sehari-hari.
Memahami alasan di balik preferensi ini memberikan wawasan tentang bagaimana orang menilai kenyamanan, keamanan, dan kebebasan dalam mengelola keuangan. Artikel ini akan membahas karakteristik orang yang lebih memilih uang tunai dan motivasi unik di balik keputusan mereka.

1. Mengutamakan kendali pribadi
Orang yang gemar menggunakan uang tunai biasanya ingin mengendalikan sepenuhnya proses transaksi. Dengan uang tunai, mereka mengetahui setiap langkah pembayaran tanpa pihak ketiga yang ikut mencatat atau memprosesnya. Sementara itu, pembayaran digital merekam seluruh aktivitas, sehingga sebagian orang merasa kehilangan kendali.
Pilihan ini lebih terkait dengan kebutuhan akan otonomi, bukan karena ketakutan terhadap teknologi.
2. Memperhatikan privasi dan data pribadi
Setiap transaksi digital, termasuk menggunakan QR code, otomatis meninggalkan jejak data pribadi, mulai dari lokasi hingga kebiasaan belanja. Bagi sebagian orang, hal ini menimbulkan kekhawatiran soal pemantauan atau penyalahgunaan data. Mereka yang menolak cashless menunjukkan kesadaran akan privasi, berhati-hati dalam berbagi informasi, dan memahami bahwa kemudahan digital selalu memiliki konsekuensi.
3. Hati-hati dalam menghadapi perubahan
Tidak semua orang langsung mengikuti tren baru. Beberapa memilih mengamati dan mengevaluasi dulu sebelum mencoba hal baru. Sikap skeptis ini sering muncul pada mereka yang menolak pembayaran digital. Mereka ingin memastikan keamanan dan efektivitas sistem baru, menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan menilai risiko dengan matang.
4. Memperjuangkan akses untuk semua orang
Tidak semua individu memiliki akses sama terhadap smartphone, internet, atau rekening bank. Sistem cashless penuh bisa membuat sebagian kelompok tertinggal. Mereka yang menolak sistem ini sering peduli pada keadilan sosial, memastikan layanan tetap dapat dijangkau semua orang, termasuk lansia, keluarga berpenghasilan rendah, atau masyarakat di daerah terpencil.
5. Menghargai pengalaman fisik
Beberapa orang lebih menikmati transaksi yang bisa dirasakan secara nyata, seperti menyerahkan uang tunai atau menggesek kartu. Pengalaman fisik ini memberi sensasi konkret dan dapat dipercaya. Mereka yang menolak pembayaran digital menghargai pengalaman sensorik nyata dan merasa lebih nyaman melakukan transaksi yang bisa disentuh secara langsung. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO