Buka konten ini

BINTAN (BP) – Pantai Mutiara Beach Resort di Telokdalam, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan, tercemar limbah minyak hitam, Rabu (28/1) malam. Pencemaran tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas wisata dan menimbulkan keluhan dari para tamu resort.

Front Office Mutiara Beach Resort, Ari Wibowo, mengatakan, limbah minyak hitam mulai terlihat menghantam bibir pantai pada malam hari. Aroma menyengat dari minyak tersebut mengganggu kenyamanan wisatawan.
“Banyak wisatawan yang mengeluh. Bahkan, ada beberapa tamu yang meminta pulang lebih cepat karena baunya tidak sedap dan mengganggu aktivitas di laut,” ujar Ari, Kamis (29/1).
Ia menjelaskan, pencemaran tersebut membuat wisatawan tidak dapat melakukan berbagai aktivitas laut, seperti snorkeling dan kegiatan pantai lainnya. Padahal, aktivitas tersebut menjadi daya tarik utama bagi tamu yang menginap di resort.
“Wisatawan yang datang ke sini biasanya menikmati laut dan pantai. Dengan kondisi seperti ini, aktivitas mereka terhenti,” katanya.
Ari menambahkan, pencemaran pertama kali diketahui oleh pekerja resort bagian housekeeping yang kemudian melaporkannya kepada manajemen. Menurutnya, kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Pencemaran limbah minyak hitam juga pernah dialami resort tersebut sekitar tahun 2020.
“Dampaknya sangat besar bagi pariwisata. Kami berharap pemerintah dapat meningkatkan patroli laut dan menelusuri pihak yang bertanggung jawab atas pembuangan limbah ini,” ujarnya.
Selain berdampak pada pariwisata, pencemaran minyak hitam juga mengganggu ekosistem pesisir. Video yang diterima Batam Pos menunjukkan hewan laut, seperti kepiting, turut terdampak. Tubuh kepiting tampak menghitam dan mengilap setelah terpapar limbah minyak.
Pemilik Mutiara Beach Resort, Marc Thalmann mengatakan, pencemaran terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Sebelumnya, salah seorang wisatawan yang tengah melakukan kite surfing sempat memperingatkan adanya gumpalan minyak yang bergerak dari arah laut.
“Saya sempat berharap minyak itu tidak sampai ke pantai kami,” kata Marc. Namun, harapan tersebut pupus setelah limbah minyak hitam akhirnya mencemari kawasan pantai resort.
Marc menyebutkan, aroma minyak bahkan tercium hingga ke kamar wisatawan, sehingga menambah keluhan dan kekhawatiran para tamu. Saat ini, pihak resort mengerahkan sedikitnya lima orang pekerja untuk membersihkan limbah dengan peralatan seadanya.
“Kami memasukkan limbah minyak ke dalam karung. Idealnya, penanganan ini dilakukan oleh dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak resort membutuhkan drum untuk menampung limbah minyak sebelum diangkut dan diproses lebih lanjut oleh DLH. Namun hingga kini, drum yang dibutuhkan belum juga tersedia.
Sementara itu, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) turut turun tangan membantu pembersihan limbah minyak hitam di Pantai Mutiara Beach Resort. Ketua Tim Rescue Pangkalan PLP Tanjunguban, Zulkarnaen, mengatakan, pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Kami turun ke lapangan untuk membersihkan limbah minyak hitam yang mencemari pantai,” ujarnya.
Ia menegaskan, pencemaran laut merupakan tanggung jawab bersama. KPLP, kata dia, telah dan akan terus meningkatkan patroli laut untuk mencegah kejadian serupa.
Pelaksana Tugas Kepala Pangkalan PLP Tanjunguban Alfaizul juga memastikan pengawasan di perairan Bintan akan diperketat.
“Kami akan terus melakukan pengawasan dan patroli untuk menjaga kebersihan laut dan pantai,” katanya. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : RATNA IRTATIK