Buka konten ini

BATAM (BP) – Realisasi investasi di Batam sepanjang 2025 melampaui target hingga 115 persen. Capaian tersebut bukan sekadar soal angka, melainkan mencerminkan perubahan struktur ekonomi Batam yang kian matang, terdiversifikasi, dan berorientasi pada sektor bernilai tambah tinggi.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan, Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi sekitar Rp25,58 triliun berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) 2025. Komposisi PMA menunjukkan pergeseran signifikan, dengan dominasi sektor berteknologi tinggi serta fokus baru pada aset digital dan industri maritim.
“Fokus investasi tahun ini telah bergeser secara signifikan. Batam tidak lagi semata bertumpu pada manufaktur konvensional, tetapi mengarah pada pengembangan infrastruktur digital dan maritim modern,” ujar Fary, Rabu (28/1).
Sektor infrastruktur digital menjadi salah satu motor utama pertumbuhan investasi. Hal ini ditandai dengan masuknya proyek-proyek pusat data (data center) berskala besar yangmemperkuat posisi Batam sebagai hub pusat data regional hingga global. Selain itu, industri manufaktur alat berat dan maritim tetap menunjukkan kinerja solid melalui investasi teknologi tinggi (High Technology/Hi-Tech) di galangan kapal dan fasilitas produksi modern.
Sektor mesin dan elektronik juga menjadi tulang punggung industri manufaktur Batam. Sektor ini berkontribusi sekitar 13,84 persen dari total distribusi sektor investasi PMA, seiring meningkatnya kebutuhan produk elektronik dan mesin berpresisi tinggi.
Sejalan dengan dominasi sektor hi-tech, karakter kebutuhan tenaga kerja di Batam pun mengalami perubahan. BP Batam mendorong fase capital deepening atau pendalaman modal, yakni penciptaan lapangan kerja berkualitas berbasis teknologi dan keahlian khusus.
Keterampilan yang dibutuhkan mencakup keahlian digital seperti teknisi infrastruktur data, pengelola cloud, hingga spesialis keamanan siber. Di sektor manufaktur maju, permintaan meningkat untuk operator dan teknisi mesin otomatisasi serta elektronik presisi tinggi.
Sementara di sektor maritim, galangan kapal membutuhkan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan teknologi perkapalan modern.
“Ini merupakan bagian dari transformasi ekonomi Batam. Kita beralih dari pendekatan berbasis alokasi lahan ke penguatan operasional aset produktif yang mendorong ekspor dan memperkuat industri lokal,” kata Fary.
Di sisi lain, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) juga mencatat pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, realisasi PMDN mencapai Rp18,43 triliun atau tumbuh lebih dari 125,90 persen secara tahunan.
Struktur PMDN didominasi sektor energi dan kelistrikan, industri kimia, utilitas, serta infrastruktur kawasan. Sektor-sektor tersebut menjadi fondasi utama yang menopang aktivitas industri di Batam, sekaligus memiliki daya serap tenaga kerja yang relatif lebih luas dibandingkan sektor padat teknologi.
“PMDN menjadi tulang punggung yang memastikan kebutuhan dasar industri terpenuhi, mulai dari pasokan energi hingga pengelolaan kawasan,” ujarnya.
Diversifikasi sektor dan sumber modal ini membentuk struktur ekonomi Batam yang lebih tangguh terhadap gejolak global. Ketergantungan pada satu sektor maupun satu negara asal investor kian berkurang.
“Batam kini berada pada fase ekonomi yang lebih terukur risikonya, dengan daya tahan yang kuat dan struktur yang semakin matang untuk investasi jangka panjang,” katanya. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK