Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Harga ayam potong di pasaran Batam hingga akhir Januari 2026 masih bertahan tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada ayam potong segar, tetapi juga ayam potong beku, sehingga turut berdampak pada harga sejumlah menu makanan di warung dan restoran, termasuk usaha kuliner ayam penyet dan sejenisnya.
Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional, harga ayam potong saat ini berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Kondisi tersebut dikeluhkan pedagang maupun pelaku usaha kuliner karena memicu naiknya biaya produksi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan (DKP2KH) Provinsi Kepulauan Riau, Rika Azmi, menyebut harga ayam potong tersebut masih dalam kategori normal. Ia menegaskan pemerintah daerah terus melakukan pengawasan agar harga di tingkat pedagang tidak melampaui ketentuan yang berlaku.
“Kami tetap melakukan pengawasan. Ketika harga sudah tinggi, perlu dipastikan lagi apakah memang betul harga di lapangan sudah mahal,” ujar Rika di Mapolda Kepri, Rabu (28/1).
Rika menjelaskan, harga eceran tertinggi (HET) ayam potong di Kepulauan Riau telah ditetapkan sebesar Rp40 ribu per kilogram. Jika ditemukan pedagang menjual di atas harga tersebut, pihaknya akan segera turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan.
“Kalau ayam dijual di atas Rp40 ribu, nanti kami akan turun lagi untuk mengecek,” katanya.
Ia tidak menampik adanya pihak yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga. Menurutnya, kenaikan tersebut umumnya terjadi di tingkat pedagang, sementara harga di tingkat peternak relatif masih stabil.
“Kadang harga naiknya di pedagang, tapi di petani atau peternak biasanya tetap,” ujarnya.
Terkait penyebab kenaikan harga, Rika menyebut faktor pemicunya cukup beragam. Namun demikian, ia memastikan ketersediaan ayam potong di Batam maupun Kepulauan Riau secara umum masih mencukupi.
“Ketersediaannya cukup. Ini bukan karena stok kurang,” tegasnya.
Selain ayam potong, fluktuasi harga juga terjadi pada komoditas beras. Meski begitu, Rika memastikan stok beras di wilayah Kepulauan Riau masih dalam kondisi aman.
“Kami sudah beberapa kali rapat terkait beras. Stok beras di Kepri masih mencukupi,” ujarnya. Rika menegaskan hingga saat ini harga eceran tertinggi (HET) beras masih tetap, yakni Rp15.400 per kilogram. Ia membantah adanya kenaikan HET beras di wilayah Kepulauan Riau.
“Kalau HET beras masih harga yang lama, masih Rp15.400,” katanya.
Meski demikian, Rika mengakui adanya permintaan dari pelaku usaha beras untuk menaikkan HET. Permintaan tersebut akan disampaikan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk dibahas lebih lanjut.
“Ada permintaan dari pelaku usaha beras. Silakan diajukan, nanti akan kami teruskan ke Bapanas,” ujarnya.
Ia juga memastikan tidak ada beras impor yang masuk ke Kepulauan Riau. Distribusi beras untuk wilayah Kepri hingga kini masih mengandalkan pasokan dari Cipinang, Karawang, dan Palembang.
Untuk menjaga stabilitas harga pangan, DKP2KH Kepri telah menempuh berbagai langkah, mulai dari mempertemukan pelaku usaha melalui kegiatan business matching hingga memperkuat koordinasi lintas instansi.
“Satgas Pangan bisa turun ke lapangan,” pungkas Rika. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO