Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Sebanyak 67 anak pengungsi luar negeri yang berada di Kota Batam kini telah mengenyam pendidikan formal, seiring komitmen Pemerintah Kota Batam dalam memastikan pemenuhan hak dasar pengungsi, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, mengatakan akses pendidikan menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah dalam penanganan pengungsi luar negeri yang sementara menetap di Batam.
“Saat ini tercatat 67 anak pengungsi telah mengikuti pendidikan formal di berbagai jenjang sekolah di Batam, sementara 38 anak lainnya masih menjalani program persiapan sekolah,” ujar Firmansyah dalam Rapat Koordinasi Penanganan Pengungsian Luar Negeri di Daerah yang digelar di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (28/1).
Selain pendidikan formal, Pemko Batam juga memfasilitasi anak pengungsi berkebutuhan khusus untuk mengakses layanan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Secara keseluruhan, Kota Batam saat ini menangani 359 pengungsi luar negeri yang didampingi oleh International Organization for Migration (IOM). Para pengungsi tersebut ditempatkan di dua lokasi penampungan sementara, yakni Hotel Kolekta Lubuk Baja dan Akomodasi Non-Detensi (AND) Sekupang.
Berdasarkan data, mayoritas pengungsi berasal dari Afghanistan sebanyak 227 jiwa. Selanjutnya disusul pengungsi asal Sudan sebanyak 84 jiwa, Somalia 20 jiwa, serta sisanya berasal dari sejumlah negara lain.
Sebagai wilayah perbatasan sekaligus kawasan strategis nasional, Batam menghadapi tantangan tersendiri dalam penanganan isu lintas negara. Untuk itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, mulai dari pemantauan hunian, penanganan sosial kemasyarakatan, hingga pemeliharaan ketertiban dan keamanan lingkungan.
“Sinergi antarinstansi sangat penting agar penanganan pengungsi berjalan optimal sekaligus menjaga kondusivitas daerah,” kata Firmansyah.
Selain sektor pendidikan, Pemko Batam juga memperkuat layanan kesehatan bagi para pengungsi melalui kolaborasi antara Dinas Kesehatan (Dinkes), puskesmas, rumah sakit, serta mitra pelaksana lainnya. Layanan tersebut meliputi edukasi kesehatan, skrining kesehatan dasar, layanan kesehatan mental dan psikososial, hingga rujukan medis sesuai kebutuhan.
Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan para pengungsi, khususnya anak-anak, tetap memperoleh perlindungan serta layanan dasar yang layak selama berada di Kota Batam. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO