Buka konten ini
BATAM KOTA (BP) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat penurunan jumlah kasus baru HIV/AIDS sepanjang tahun 2025. Hingga akhir tahun, ditemukan 671 kasus baru, turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 822 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi, menyebut penurunan tersebut menjadi indikator positif atas berbagai upaya pencegahan, sosialisasi, dan penanganan yang selama ini dilakukan. Meski demikian, pengendalian HIV/AIDS tetap menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Walaupun ada penurunan, ini bukan berarti kita bisa lengah. Target kita tetap Three Zero, yakni nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma,” ujar Didi, Selasa (27/1).
Ia menjelaskan, tantangan penanganan HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga persoalan sosial yang menyertainya, terutama stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kondisi tersebut kerap membuat masyarakat enggan memeriksakan diri sejak dini.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinkes Batam terus memperkuat lima langkah konkret dalam upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS.
Pertama, pendampingan sosial terhadap ODHA melalui peningkatan pengawasan kepatuhan pengobatan serta memastikan kesinambungan layanan kesehatan tanpa terputus. Kepatuhan terapi antiretroviral (ARV) menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas hidup pasien sekaligus menekan risiko penularan.
Kedua, pengurangan stigma dan diskriminasi melalui edukasi publik yang dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Didi, masih banyak masyarakat yang takut memeriksakan diri karena khawatir dikucilkan oleh lingkungan sekitar.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa HIV bukan lagi vonis mati jika ditangani dengan benar. Dengan menekan stigma, kita membuka pintu bagi mereka untuk mendapatkan layanan kesehatan sedini mungkin,” katanya.
Ketiga, pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan. Upaya ini dilakukan untuk mendorong kemandirian ekonomi sekaligus menekan faktor risiko sosial yang kerap menjadi pemicu penularan.
Keempat, memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan membangun jejaring antara Dinkes, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan komunitas peduli HIV/AIDS guna memperluas jangkauan edukasi serta layanan.
Kelima, pendekatan keluarga sebagai sistem dukungan utama bagi ODHA. Lingkungan keluarga yang menerima dan suportif dinilai berperan besar dalam menjaga kesehatan mental serta motivasi pasien untuk menjalani pengobatan secara rutin.
Didi menegaskan, capaian penurunan kasus tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, komunitas, hingga masyarakat luas. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar masih berasal dari rasa takut terhadap stigma sosial.
Dinkes Batam pun mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, melakukan pemeriksaan berkala bagi kelompok berisiko, serta menciptakan lingkungan yang inklusif dan tidak diskriminatif terhadap para penyintas.
“Penanganan HIV/AIDS bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk hidup sehat dan produktif,” tutupnya. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO