Buka konten ini

PERNAH merasa bingung ketika pasangan wanita tiba-tiba berubah dingin, jarang membalas chat, atau memilih diam tanpa penjelasan? Fenomena ini, yang dikenal dengan istilah silent treatment, kerap disalahpahami sebagai sikap kekanak-kanakan atau bentuk manipulasi. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Banyak perempuan melakukan silent treatment bukan untuk menyakiti pasangan, tetapi karena sedang berjuang dengan perasaan mereka sendiri. Dalam hubungan, diam bisa menjadi sinyal bahwa ada emosi yang belum tersampaikan dengan baik. Jika tidak dipahami, hal ini bisa memicu salah paham berkepanjangan dan memperburuk hubungan.
Berikut enam alasan mengapa perempuan terkadang lebih memilih diam daripada berbicara langsung, dirangkum dari berbagai sumber:
1. Kelelahan Emosional
Salah satu alasan utama adalah kelelahan emosional. Saat perasaan kecewa, sedih, atau marah menumpuk, berbicara justru terasa menguras energi. Diam menjadi cara aman untuk menenangkan diri dan mencegah emosi meledak dalam bentuk kata-kata yang mungkin akan disesali. Bagi sebagian perempuan, diam bukan berarti tidak peduli, melainkan bentuk perlindungan diri sambil memproses emosi dengan kepala dingin.
2. Merasa Tidak Didengar
Silent treatment sering muncul setelah berulang kali merasa diabaikan. Ketika perempuan sudah mencoba menyampaikan perasaan tetapi respons yang diterima meremehkan atau defensif, diam menjadi pilihan terakhir. Ini merupakan pesan tersirat: “Aku sudah capek bicara, tapi tidak pernah benar-benar dipahami.”
3. Bingung atau Belum Siap Mengungkapkan Perasaan
Tidak semua orang mampu langsung merangkai emosinya menjadi kata-kata. Perempuan bisa bingung membedakan marah, kecewa, atau takut kehilangan. Diam dianggap jalan paling aman sampai perasaan lebih jelas dan bisa dijelaskan tanpa memperparah konflik.
4. Menyampaikan Protes Tanpa Ribut
Bagi sebagian perempuan, mengekspresikan kemarahan secara terbuka dianggap berlebihan. Diam menjadi cara mengekspresikan kekecewaan secara halus. Cara ini sering disalahartikan sebagai sikap dingin atau acuh, padahal sebenarnya merupakan bentuk protes yang tidak menimbulkan pertengkaran.
5. Ingin Diperhatikan dan Diperjuangkan
Terkadang, silent treatment digunakan untuk mengetahui seberapa peduli pasangan. Perempuan ingin melihat apakah pasangannya menyadari perubahan sikap dan bersedia berusaha memperbaiki keadaan. Ini bukan manipulasi, tetapi kebutuhan emosional yang belum tersampaikan dengan cara sehat.
6. Dipengaruhi Luka atau Trauma Masa Lalu
Pengalaman hubungan sebelumnya yang penuh penolakan atau konflik bisa membuat perempuan memilih diam. Jika sebelumnya setiap bicara justru disalahkan atau diabaikan, diam terasa lebih aman daripada kembali terluka. Trauma ini menjadikan diam sebagai mekanisme bertahan, bukan hukuman.
Memahami alasan di balik silent treatment membantu pasangan menanggapi dengan empati. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO