Buka konten ini

BATAM (BP) – Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pada awal tahun ini belum berdampak langsung terhadap pasar properti di Batam. Hingga kini, kalangan pengembang mengaku belum menemukan penurunan minat beli maupun gangguan signifikan pada kinerja penjualan akibat fluktuasi kurs tersebut.
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Batam, Robinson Tan, mengatakan para anggota REI Batam belum melaporkan adanya pengaruh berarti dari kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap transaksi properti.
“Sejauh ini belum ada laporan dari anggota kami terkait pengaruh nilai tukar USD terhadap penjualan properti,” ujarnya, Kamis (22/1).
Ia menjelaskan, jika terjadi penyesuaian harga jual properti, hal tersebut lebih disebabkan oleh kenaikan biaya produksi yang bersifat normal, seperti meningkatnya harga material bangunan dan Upah Minimum Kota (UMK). Penyesuaian harga tersebut merupakan konsekuensi dari kenaikan komponen biaya, bukan semata-mata dampak langsung penguatan dolar AS.
“Kalau pun ada kenaikan harga jual, itu karena faktor normal, seperti material dan UMK yang naik sehingga biaya produksi ikut meningkat dan harga jual disesuaikan,” kata Robinson.
Meski demikian, ia mengakui penguatan dolar dalam jangka panjang tetap perlu diantisipasi. Terutama jika kenaikan nilai tukar tersebut berdampak pada harga material impor atau menekan sektor industri yang menjadi penopang utama perekonomian Batam.
Menurut Robinson, pasar properti Batam sangat erat kaitannya dengan kinerja sektor industri. Selama industri tumbuh dan mampu menyerap tenaga kerja, daya beli masyarakat dinilai relatif terjaga sehingga permintaan hunian tetap stabil.
“Peminat properti di Batam sangat dipengaruhi sektor industri. Jika industri terus bertumbuh, pasar tetap bagus. Sebaliknya, jika sektor industri melemah, akan sangat berpengaruh terhadap daya beli,” jelasnya.
Terkait prospek ke depan, Robinson menilai sektor properti Batam masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Kebutuhan hunian masyarakat dinilai tetap tinggi seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan perdagangan bebas tersebut.
Ia juga menanggapi persoalan tata kelola lahan yang kerap menjadi tantangan bagi pengembang. Menurutnya, isu lahan tidak hanya terjadi di Batam, melainkan juga di berbagai daerah lain di Indonesia. Meski demikian, pelaku usaha diyakini akan terus beradaptasi.
“Persoalan lahan bukan hanya tantangan Batam, tapi juga nasional. Namun kami percaya pelaku usaha akan selalu kreatif dan inovatif dalam menciptakan pasar, karena kebutuhan rumah masyarakat masih besar,” katanya.
Meski dalam periode tertentu pasar properti dapat mengalami perlambatan, Robinson optimistis siklus properti pada akhirnya akan kembali bergerak naik. Dengan fondasi sektor industri yang masih relatif terjaga, Batam dinilai tetap memiliki prospek cerah sebagai salah satu pasar properti strategis di Indonesia. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO