Buka konten ini

RENCANA penghentian penerbangan Garuda Indonesia di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang dinilai berpotensi menurunkan citra pariwisata Kepulauan Riau (Kepri), sekaligus berdampak pada konektivitas dan perekonomian daerah.
Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Kepri menilai Bandara RHF merupakan salah satu gerbang utama provinsi yang menghubungkan Tanjungpinang dan Bintan sebagai ikon pariwisata nasional dan internasional.
“Sangat disayangkan jika maskapai Garuda Indonesia benar-benar tidak lagi beroperasi di Bandara RHF,” kata Ketua Asparnas Kepri, Mulyadi Tan, Kamis (22/1).
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menurunkan citra Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri dan destinasi pariwisata budaya nasional, serta Bintan sebagai ikon pariwisata internasional.
Ia menegaskan, Bandara RHF bukan sekadar bandara kota, melainkan gerbang utama Kepri, penghubung pusat budaya Melayu, serta simpul pergerakan wisatawan dan investor.
“Garuda Indonesia memiliki peran strategis sebagai maskapai nasional yang tidak hanya menjalankan fungsi bisnis, tetapi juga fungsi konektivitas dan citra negara,” ujarnya.
Mulyadi menilai pariwisata berkelas dunia membutuhkan akses udara yang berkelas pula.
Tanpa konektivitas penerbangan premium, daya saing pariwisata Tanjungpinang dan Bintan dikhawatirkan melemah di tingkat nasional maupun regional.
Karena itu, Asparnas Kepri mendorong pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, serta manajemen Garuda Indonesia untuk duduk bersama mencari solusi berkelanjutan.
“Bandara RHF bukan hanya bandara Kota Tanjungpinang, tetapi merupakan salah satu bandara wajah Kepulauan Riau,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kepri, Iman Sutiawan, juga menyatakan harapannya agar rencana penghentian penerbangan Garuda Indonesia dapat dikaji ulang sebelum diputuskan secara final.
“Dengar kabar itu kami cukup terkejut. Kami berharap Garuda Indonesia bisa mempertimbangkan kembali,” kata Iman saat ditemui di Dompak, Tanjungpinang, Kamis (22/1).
Ia menilai selama ini Garuda Indonesia menjadi salah satu penunjang perekonomian di ibu kota Provinsi Kepri. Keberadaan maskapai pelat merah tersebut juga menjadi simbol kemajuan daerah.
“DPRD dan Pemprov Kepri tentu berharap wacana ini bisa dikaji ulang,” ujarnya.
Di sisi lain, General Manager Bandara RHF Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan, mengatakan informasi terkait rencana berhentinya penerbangan Garuda Indonesia per 9 Februari masih bersifat lisan.
“Kami memang sudah mendengar informasi tersebut, tetapi hingga kini masih menunggu kepastian resmi,” katanya.
Ia menambahkan, pihak bandara belum menerima penjelasan resmi terkait alasan Garuda Indonesia menghentikan layanan penerbangan dari dan menuju Bandara RHF Tanjungpinang.
“Kami masih menunggu alasan pastinya dari Garuda Indonesia pusat,” pungkasnya. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY