Buka konten ini
PURWAKARTA (BP) – Tekanan pasar otomotif tidak hanya menghantam segmen mobil penumpang. Kendaraan niaga pun menghadapi tantangan serupa. Mulai dari permintaan yang cenderung landai hingga masuknya produk impor, terutama dari Tiongkok, yang mulai mengganggu peta persaingan dalam negeri.
Direktur PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) Harianto Sariyan mengatakan, permintaan kendaraan niaga pada 2026 diperkirakan masih bergerak moderat. Kehadiran kendaraan berat impor memberi tekanan tambahan bagi produsen nasional.
“Tidak bisa dimungkiri, masuknya produk kendaraan berat dari Tiongkok sedikit mengganggu penjualan dan produksi di dalam negeri,” ujarnya di sela kunjungan media ke pabrik Hino di Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (21/1).
Meskipun demikian, lanjut Harianto, awal 2026 dinilai memberi ruang optimisme. Sejumlah program pemerintah yang membutuhkan armada transportasi dan logistik menjadi penopang pasar.
Pabrik Hino di Purwakarta memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 75 ribu unit per tahun. Fasilitas itu memproduksi bus dan truk dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 40 persen.
Untuk menjaga kinerja di tengah pasar domestik yang belum pulih, Hino juga mengandalkan ekspor. Sejak pengapalan perdana pada 2011, Hino Indonesia mengekspor kendaraan utuh (CBU), CKD, serta komponen ke berbagai negara seperti Vietnam, Filipina, Bolivia, Haiti, Papua Nugini, Thailand, Malaysia, Pakistan, Taiwan, hingga Jepang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI