Buka konten ini
BATAM (BP) – Pemerintah melalui BP Batam kembali menegaskan bahwa persoalan air bersih di Kota Batam bukan terletak pada ketersediaan air baku, melainkan pada rapuhnya jaringan distribusi dan keterbatasan anggaran pengembangan infrastruktur. Klaim ini disampaikan di tengah menyusutnya sejumlah waduk dan keluhan warga yang belum sepenuhnya terjawab di lapangan.
Deputi Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyebut secara kapasitas Batam masih berada dalam kondisi aman. Dari sembilan waduk yang ada, tujuh di antaranya aktif beroperasi dengan kapasitas produksi sekitar 4.200 liter per detik. Sementara secara keseluruhan, potensi air baku Batam mencapai kurang lebih 5.000 liter per detik.
“Jadi sebenarnya airnya cukup. Persoalannya ada pada jaringan distribusi dan keterbatasan anggaran,” kata Ariastuty, Sabtu (17/1).
Namun, dengan kebutuhan harian masyarakat yang berada di kisaran 4.700 liter per detik, margin ketersediaan air Batam terbilang sangat tipis. Kondisi ini membuat sistem penyediaan air bersih rentan terhadap gangguan, baik akibat cuaca ekstrem, kebocoran jaringan, maupun lonjakan konsumsi.
“Untuk lima tahun ke depan masih aman, asalkan tingkat kehilangan air bisa ditekan,” ujarnya.
Di sisi hulu, BP Batam mengklaim terus mengawasi Daerah Tangkapan Air (DTA) bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS). Upaya yang dilakukan meliputi rehabilitasi vegetasi, pemagaran waduk, serta patroli rutin.
Meski demikian, temuan pembakaran dan pembalakan liar di sekitar DTA hingga kini belum berujung pada proses hukum. Sementara aktivitas peternakan dan perikanan ilegal masih berhenti pada tahap penghentian penyelidikan (SP3) dan penertiban administratif.
Untuk menjawab kebutuhan air jangka panjang, BP Batam menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari optimalisasi kapasitas waduk eksisting, pembangunan embung penahan air hujan, pemanfaatan kembali air limbah terolah ke waduk, pengamanan DTA, pembangunan waduk baru, hingga persiapan teknologi desalinasi air laut atau Seawater Reverse Osmosis (SWRO).
Di hilir, penguatan infrastruktur pengolahan dan distribusi juga disiapkan. BP Batam saat ini sedang melelang proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Ladi. Selain itu, untuk pertama kalinya jaringan distribusi air bersih akan dibangun menuju kawasan Tanjung Piayu Laut, wilayah yang selama ini belum pernah terlayani jaringan air perpipaan.
“Pengerjaan dilakukan tahun ini dan ditargetkan selesai pada Juni 2026,” kata Ariastuty.
Namun, persoalan paling mendesak masih berada di kawasan Batu Merah dan Tanjung Sengkuang yang telah lama masuk kategori stress area kronis sejak era pengelolaan PT Adhya Tirta Batam (ATB). Selama 25 tahun beroperasi, ATB tercatat menuntaskan 14 stress area. Saat ini, BP Batam masih mewarisi 18 kawasan bermasalah.
Dalam tiga tahun masa transisi pasca-berakhirnya konsesi ATB, BP Batam baru mampu menyelesaikan lima stress area. Sisanya masih menunggu realisasi anggaran, meskipun seluruh perencanaan teknis disebut telah siap.
Kondisi di lapangan kian rumit dengan keberadaan rumah liar (ruli) di sekitar Batu Merah dan Tanjung Sengkuang. Status hunian yang tidak permanen membuat pembangunan jaringan pipa permanen menjadi tidak memungkinkan. Sebagai solusi sementara, BP Batam menerapkan sambungan langsung khusus.
Sambil menunggu proyek besar rampung, mitigasi darurat dilakukan melalui distribusi air menggunakan water tanki. Jadwal pengiriman diatur secara rutin, disertai pemasangan tandon berkapasitas 20 ribu liter di sejumlah titik. Namun, solusi ini masih terkendala faktor elevasi. Wilayah dataran rendah relatif lebih mudah teraliri, sementara kawasan perbukitan tetap mengalami kesulitan pasokan.
BP Batam juga menemukan persoalan teknis lain, seperti ketidaksesuaian antara kondisi pipa di lapangan dengan peta jaringan resmi. Bahkan, terdapat interkoneksi antarblok yang tidak tercatat dalam sistem. Penggunaan pompa air pribadi oleh warga turut memperparah ketimpangan tekanan dalam jaringan distribusi. “Kalau satu rumah menyedot dengan pompa, rumah lain di jalur yang sama otomatis kehilangan aliran,” kata Ariastuty.
Untuk menstabilkan pasokan, BP Batam melakukan rekayasa jaringan dengan mengalihkan aliran bertekanan kuat secara bergantian ke wilayah tertentu agar distribusi lebih merata.
Sebagai solusi permanen, proyek besar pembangunan tambahan pipa dari waduk menuju Tangki Ozon dan Tangki Bukit Senyum telah disiapkan. Tangki Ozon memiliki kapasitas 2 x 6.000 meter kubik dan idealnya mampu melayani sekitar 600 ribu penduduk. Selama ini, tangki tersebut belum dapat dioperasikan maksimal karena keterbatasan pasokan.
“Setelah sistem pompa dan pipa tambahan selesai, Tangki Ozon bisa beroperasi penuh,” ujarnya.
Proyek ini telah masuk daftar prioritas dengan nilai anggaran sekitar Rp98 miliar dan masih menunggu realisasi. BP Batam berharap, setelah proyek rampung, kekhawatiran masyarakat terhadap pasokan air bersih dapat ditekan secara signifikan.
Terkait Waduk Sei Gong, BP Batam menjelaskan waduk tersebut belum dapat difungsikan karena masih berada di bawah kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum dan belum diserahterimakan akibat kelengkapan dokumen yang belum rampung. Selain itu, kapasitas Waduk Sei Gong tergolong kecil.
“Sei Gong kapasitasnya 400 liter per detik, tetapi yang terpakai hanya sekitar 5 liter per detik untuk masyarakat sekitar. Untuk Rempang, mayoritas masih mengandalkan Waduk Rempang dan Monggak, dengan pemakaian sekitar 20 liter per detik,” kata Ariastuty. (Arjuna)
OLEH : Ariastuty Sirait
Deputi Pelayanan Umum BP Batam