Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Kondisi pelabuhan penyeberangan yang digunakan pelajar SMP Negeri 1 Siantan Utara di Desa Piasan, Kecamatan Siantan Utara, Kabupaten Kepulauan Anambas, dinilai membahayakan. Pelabuhan yang setiap hari menjadi akses naik-turun kapal para siswa itu rencananya akan dibangun ulang.
Kondisi memprihatinkan tersebut terungkap saat kunjungan Anggota DPRD Kepulauan Anambas, Marjohan, bersama Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Anambas, Nurullah, Selasa (20/1).
Pantauan di lapangan, pelabuhan yang dibangun pada 2007 itu sudah tidak memiliki atap. Akibatnya, para pelajar harus menunggu kapal di ruang terbuka. Saat hujan turun, siswa terpaksa berdesakan tanpa perlindungan yang memadai.
Selain itu, kondisi ruang tunggu pelabuhan juga dinilai tidak layak. Lantai terlihat usang, beberapa bagian mengalami kerusakan, dan kebersihannya kurang terjaga.
Kondisi tiang penyangga pelabuhan pun menjadi perhatian serius. Sejumlah tiang tampak mulai keropos dan dikhawatirkan tidak lagi mampu menahan beban dalam jangka panjang.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan para pelajar, terutama pada jam-jam sibuk ketika pelabuhan dipadati siswa yang hendak berangkat dan pulang sekolah.
Anggota DPRD Kepulauan Anambas, Marjohan, mengaku cemas melihat kondisi pelabuhan yang masih digunakan anak-anak sekolah.
“Saya takut melihat anak-anak ramai-ramai menggunakan pelabuhan ini untuk naik ke kapal. Bedegup jantung,” ujarnya di lokasi.
Ia pun menyarankan agar penggunaan pelabuhan tersebut dihentikan sementara dan aktivitas penyeberangan dialihkan ke Pelabuhan Desa Piasan yang dinilai lebih aman.
Meski jarak Pelabuhan Desa Piasan cukup jauh dari sekolah, Marjohan menegaskan keselamatan pelajar harus menjadi prioritas utama.
“Tak masalah anak-anak harus berjalan beberapa meter demi keselamatan. Memang pelabuhan yang rusak ini dekat dengan sekolah, tapi demi keselamatan kita minta dialihkan ke pelabuhan desa,” jelas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perhubungan Anambas, Nurullah, mengatakan pihaknya telah melakukan pengukuran terhadap pelabuhan yang rusak. Hasil pengukuran tersebut akan menjadi bahan pengajuan pembangunan kepada pemerintah daerah.
Namun demikian, Nurullah menilai rehabilitasi bukan menjadi solusi terbaik. Menurutnya, biaya perbaikan akan sangat besar karena membutuhkan pembangunan pondasi baru.
“Kami lebih memilih membangun baru di lahan milik sekolah setelah berkoordinasi dengan kepala sekolah. Lebih efisien juga, karena pelabuhan yang rusak itu dibangun pada masa PNPM. Kalau direhabilitasi dengan pondasi pailing, biayanya bisa miliaran rupiah,” katanya.
Selain itu, Nurullah mengungkapkan pihaknya juga mendapat informasi dari Kepala Desa Piasan, Zainal Arifin, bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri berencana membangun pelabuhan khusus pelajar melalui program Jembatan Penyeberangan Anak Sekolah (JPAS).
Program tersebut ditujukan untuk menunjang keselamatan dan kenyamanan pelajar yang setiap hari menggunakan transportasi laut.
“Hingga saat ini kami masih menunggu realisasi pembangunan melalui program tersebut. Jika tidak terealisasi, akan kami upayakan melalui APBD Perubahan atau APBD 2027,” pungkas Nurullah. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY