Buka konten ini

GAZA (BP) – Kelompok Hamas menyatakan “sepenuhnya siap” untuk menyerahkan kekuasaan administratif kepada komite teknokratik Palestina yang baru dibentuk dan ditugaskan mengelola Jalur Gaza pada fase pascaperang.
Pernyataan tersebut disampaikan Hamas pada Senin (19/1) melalui kantor media pemerintah Gaza yang dikelola kelompok itu. Hamas berjanji akan memastikan proses transisi berlangsung secara lancar dan tertib, dengan tetap melindungi hak-hak pegawai sektor publik serta menjamin keberlanjutan layanan esensial bagi warga sipil.
Dalam pernyataannya, Hamas menyebut transisi administratif ini sebagai bagian dari fase kedua kesepakatan perdamaian Gaza. Namun, Hamas juga menegaskan bahwa proses tersebut harus dibarengi dengan tuntutan utama, yakni penghentian sepenuhnya apa yang mereka sebut sebagai “agresi” Israel di Gaza.
Hamas menekankan hak inheren rakyat Palestina untuk melakukan rekonstruksi Gaza dengan cara yang melindungi hak-hak nasional serta kedaulatan Palestina. Kelompok itu juga kembali menegaskan tujuan pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Komite teknokratik Palestina yang akan mengelola Gaza pascaperang beranggotakan 15 orang. Komite tersebut secara resmi memulai tugasnya pada Jumat (16/1) melalui pertemuan di Kairo, Mesir, dengan prioritas utama pada penanganan masalah kemanusiaan di Gaza.
Menurut seorang sumber Mesir kepada kantor berita Xinhua, komite itu tiba di Kairo pada Kamis (15/1), namun sempat tertunda sehari akibat hambatan dari pihak Israel.
Sementara itu, kekerasan di Jalur Gaza masih terus berlangsung. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan kepada Xinhua bahwa tiga warga Palestina tewas akibat tembakan Israel dalam insiden terpisah di Khan Younis dan Rafah, Senin (19/1).
Basal menyebut pasukan Israel secara rutin menargetkan tempat penampungan dan kawasan sipil. Ia menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum kemanusiaan dan hukum internasional.
Sumber-sumber lokal juga melaporkan adanya serangan udara Israel di wilayah timur Khan Younis, penembakan artileri di Gaza timur, serta penghancuran rumah-rumah warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Israel belum memberikan komentar terkait insiden-insiden terbaru tersebut.
Sejak gencatan senjata antara Hamas dan Israel berlaku pada Oktober 2025, sedikitnya 465 warga Palestina dilaporkan tewas. Dengan demikian, total korban jiwa sejak Oktober 2023 mencapai 71.550 orang, berdasarkan data otoritas kesehatan di Gaza. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY