Buka konten ini

RABAT (BP) – Dua kali membawa Senegal juara Piala Afrika, dua kali pula wide attacker Sadio Mane ditahbiskan sebagai pemain terbaik. Setelah edisi 2021 di Kamerun, Mane meraihnya dalam edisi 2025 di Maroko kemarin (19/1). Dalam final, Les Lions de Teranga – julukan Senegal menaklukkan Singa Atlas – sebutan Maroko – dengan skor 1-0 via babak perpanjangan waktu.
Mane tidak mencetak gol. Gelandang Villarreal CF, Pape Gueye, yang jadi pahlawan kemenangan Senegal dengan gol pada menit ke-94 dalam laga di Prince Moulay Abdellah Stadium, Rabat. Namun, upaya Mane membujuk rekan setimnya supaya tidak walk out di akhir waktu normal tak kalah membanggakan.
Para pemain Senegal, termasuk pelatih Pape Thiaw, enggan melanjutkan pertandingan ketika wasit menghadiahi penalti untuk Maroko atas pelanggaran bek kiri El Hadji Malick Diouf terhadap gelandang serang Brahim Diaz. Pertandingan terhenti sekitar 14 menit. Mane akhirnya berhasil membujuk rekan-rekannya kembali bermain.
”Sepak bola adalah olahraga spesial, seluruh dunia melihat. Aku ingin memberikan citra bagus bagi olahraga ini, khususnya Piala Afrika,” kata Mane kepada AFP.
Citra bagus itu pula yang diharapkan Mane karena Piala Afrika 2025 jadi Piala Afrika terakhir pemain 33 tahun tersebut.
”Ya, aku rasa aku telah mengatakannya. Jika tidak ada perubahan dan semua berjalan lancar, insya Allah aku berhenti di sini (Piala Afrika 2025). Selanjutnya, aku akan jadi pemain ke-12 di timnas Senegal,’’ kata rekan Cristiano Ronaldo di Al-Nassr FC itu kepada RMC Sport.
Bukan hanya skandal keributan di lapangan yang diselamatkan Mane. Final juga diwarnai insiden handuk kiper Senegal Edouard Mendy yang dicuri ball boy. Kiper cadangan Senegal, Yehvann Diouf, sampai harus bertarung fisik melawan beberapa ball boy. Ada pula Brahim yang jadi sorotan karena gagal mengeksekusi penalti. Pemain Real Madrid itu malah melakukan gaya Panenka untuk sebuah momen krusial Singa Atlas dalam mengakhiri penantian juara selama 50 tahun. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO