Buka konten ini

BATAM (BP) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dinilai berpotensi mendorong kinerja ekspor Kota Batam. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga berdampak pada meningkatnya biaya impor bahan baku dan mesin produksi untuk menopang esktor industri di Kota Batam.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Batam, Rafki Rasyid, mengatakan, secara teori pelemahan rupiah membuat produk ekspor menjadi lebih kompetitif di pasar global.
“Seharusnya volume ekspor dari Batam meningkat dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang beberapa negara mitra dagang. Namun, untuk memastikan dampaknya secara riil, kita menunggu rilis resmi data ekspor dari BPS,” ujar Rafki, Minggu (18/1).
Ia menjelaskan, melemahnya rupiah menyebabkan harga produk ekspor dalam mata uang asing menjadi relatif lebih murah, sehingga lebih menarik bagi pembeli luar negeri. Kondisi ini dinilai menguntungkan bagi Batam yang sebagian besar industrinya berorientasi ekspor, terutama sektor manufaktur dan elektronik.
Meski demikian, Rafki mengakui fluktuasi nilai tukar juga membawa tantangan. Kenaikan kurs dolar berdampak langsung pada biaya impor bahan baku dan mesin produksi yang didatangkan dari luar negeri.
“Untuk impor bahan baku dan mesin produksi, tentu biayanya akan lebih mahal ketika rupiah melemah,” katanya.
Namun, lanjut Rafki, peningkatan biaya impor tersebut umumnya masih dapat dikompensasi oleh kenaikan penerimaan ekspor. Selain itu, sebagian biaya operasional perusahaan, seperti upah tenaga kerja dan biaya domestik lainnya, dibayarkan dalam rupiah.
“Dalam kondisi rupiah melemah, hal ini justru menjadi keuntungan tambahan bagi eksportir,” ujarnya.
Rafki menambahkan, dampak pelemahan rupiah juga sangat bergantung pada struktur pembiayaan perusahaan. Perusahaan dengan utang luar negeri dalam mata uang asing akan menghadapi beban yang lebih berat ketika kurs dolar menguat.
“Sebaliknya, jika eksportir berutang kepada perbankan dalam negeri, beban pembiayaannya justru relatif lebih ringan saat rupiah melemah,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi risiko fluktuasi nilai tukar, sebagian pelaku usaha di Batam telah menerapkan strategi lindung nilai atau hedging.
“Hedging pada dasarnya adalah mengamankan nilai tukar untuk transaksi di masa depan dengan kurs saat ini, sehingga pelaku usaha tidak terlalu terdampak naik-turunnya nilai tukar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mencatat kinerja ekspor Batam sepanjang Januari–November 2025 menunjukkan tren positif. Nilai ekspor Batam mencapai 17.960,63 juta dolar Amerika atau tumbuh 21,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Pada November 2025, nilai ekspor Batam tercatat sebesar 1.630,87 juta dolar Amerika, meningkat 16,93 persen secara tahunan. Ekspor nonmigas mendominasi dengan nilai 1.583,00 juta dolar Amerika atau naik 19,97 persen, sementara ekspor migas tercatat 47,87 juta dolar Amerika, turun 36,40 persen.
BPS mencatat, sepanjang Januari–November 2025, ekspor nonmigas terbesar berasal dari golongan mesin dan peralatan listrik (HS 85) dengan nilai 9.156,31 juta dolar Amerika atau berkontribusi 53,01 persen terhadap total ekspor nonmigas Batam. Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai 5.378,26 juta dolar Amerika atau 29,94 persen.
Dari sisi pelabuhan, nilai ekspor terbesar tercatat melalui Pelabuhan Batuampar sebesar 13.067,21 juta dolar Amerika, disusul Pelabuhan Sekupang 2.616,01 juta dolar Amerika, Pelabuhan Kabil/Panau 1.394,11 juta dolar Amerika, Pelabuhan Belakang Padang 695,04 juta dolar Amerika, dan Bandara Hang Nadim 83,18 juta dolar Amerika. Kelima pintu keluar tersebut menyumbang 99,42 persen dari total ekspor Batam.
Sementara itu, nilai impor Batam selama Januari–November 2025 juga meningkat signifikan. BPS mencatat nilai impor mencapai 16.175,64 juta dolar Amerika atau naik 24,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada November 2025, nilai impor tercatat 1.419,91 juta dolar Amerika, meningkat 8,48 persen secara tahunan. Impor nonmigas mendominasi dengan nilai 1.410,72 juta dolar Amerika atau naik 8,51 persen, sedangkan impor migas mencapai 9,19 juta dolar Amerika atau naik 3,94 persen.
Golongan mesin dan peralatan listrik (HS 85) kembali menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai 7.036,67 juta dolar Amerika atau 43,72 persen dari total impor nonmigas. Tiongkok tercatat sebagai negara pemasok impor terbesar Batam dengan nilai 6.449,38 juta dolar Amerika atau 39,87 persen.
Pelabuhan Batuampar menjadi pintu masuk utama impor dengan nilai 10.732,83 juta dolar Amerika, disusul Pelabuhan Sekupang 4.347,93 juta dolar Amerika, Pelabuhan Kabil/Panau 532,49 juta dolar Amerika, Pelabuhan Pulau Sambu 496,33 juta dolar Amerika, dan Bandara Hang Nadim 44,24 juta dolar Amerika.
Dengan tren ekspor dan impor yang sama-sama meningkat, pelaku usaha berharap stabilitas nilai tukar tetap terjaga. Pelemahan rupiah dinilai membuka peluang bagi ekspor, namun pengelolaan risiko kurs menjadi kunci agar kinerja industri Batam tetap berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK