Buka konten ini

SEMARANG (BP) – Banjir yang melanda wilayah Pekalongan, Jawa Tengah, berdampak pada layanan transportasi kereta api. Sebanyak 4.915 tiket perjalanan kereta api (KA) di wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang dibatalkan. PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan pengembalian bea tiket 100 persen kepada penumpang terdampak.
Secara keseluruhan, PT KAI membatalkan 38 perjalanan KA akibat banjir yang terjadi di wilayah kerja Daop 4 Semarang dan Daop 1 Jakarta. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, curah hujan tinggi memicu genangan air di sejumlah titik jalur rel.
Mengutip Radar Semarang (Batam Pos Group), pembatalan tiket di wilayah Daop 4 Semarang dilakukan sejak Sabtu (17/1). Rinciannya, 2.479 penumpang kelas ekonomi dan 761 penumpang kelas eksekutif terdampak pada hari pertama. Kemudian pada Minggu (18/1), pembatalan kembali terjadi terhadap 1.201 penumpang kelas eksekutif dan 474 penumpang kelas ekonomi.
Pembatalan tersebut merupakan dampak gangguan perjalanan KA akibat genangan air di jalur rel petak Pekalongan–Sragi KM 88 dan KM 89. “KAI Daop 4 Semarang menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan ini. Sebagai bentuk tanggung jawab, KAI memberikan pengembalian bea tiket sebesar 100 persen sesuai ketentuan,” kata Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin (18/1).
Ia menjelaskan, pengembalian bea tiket dapat dilakukan paling lambat tujuh hari sejak tanggal pembatalan. Selain itu, pelanggan yang tidak berkenan melanjutkan perjalanan akibat pengalihan rute, rekayasa pola operasi, maupun keterlambatan, juga berhak mendapatkan pengembalian bea penuh.
Kebijakan tersebut berlaku termasuk untuk tiket terusan maupun tiket pulang-pergi yang dikelola oleh KAI Group.
“Pengembalian bea tiket dapat dilakukan melalui loket stasiun dan Contact Center 121. Pengajuan melalui Contact Center 121 bisa dilakukan melalui layanan telepon dan VOIP pada aplikasi Access by KAI, khusus untuk pengembalian bea 100 persen,” ujarnya.
Jalan Nasional Memprihatinkan
Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan pada sektor infrastruktur jalan. Radar Madiun melaporkan, kondisi Jalan Raya Solo–Ngawi di sepanjang Kecamatan Mantingan, Karanganyar, hingga Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kian memprihatinkan.
Banyak lubang menganga di ruas jalan nasional tersebut dan beberapa kali memicu kecelakaan lalu lintas.
Sebagai bentuk protes, sejumlah pemuda Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Ngawi, menanam pohon pisang di tengah badan jalan berlubang pada Sabtu (17/1).
“Kami sangat resah dengan kondisi jalan seperti ini. Banyak lubang terbuka di jalan raya yang notabene merupakan jalan nasional dan akses utama penghubung antarprovinsi,” ujar koordinator aksi Sigit Banoali, kemarin (18/1).
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali Kementerian PU, Candra Hervin Subandriyo mengatakan, pihaknya langsung mencabut pohon pisang yang ditanam warga dan melakukan penambalan jalan, Sabtu (17/1). Ia menjelaskan, munculnya lubang dipicu faktor cuaca ekstrem berupa hujan lebat serta maraknya kendaraan over dimension over load (ODOL) dengan bobot di atas 10 ton yang melintas di jalan nasional. (*)
LAPORAN: JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK