Buka konten ini

BESARNYA pasar otomotif Indonesia menarik investor global. Produsen ban asal Tiongkok, Sailun Group, resmi mengoperasikan fasilitas manufaktur terbarunya di Demak, Jawa Tengah. Peresmian itu menandai langkah strategis Sailun menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sekaligus pusat distribusi ban di Asia Tenggara.
General Manager Asia Region & PT Sailun Tire Indonesia Cao Guo Qiang mengatakan, pabrik di Indonesia menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mendekatkan kapasitas produksi dengan pasar utama. “Indonesia memiliki posisi strategis, baik sebagai pasar domestik maupun hub ekspor Asia Pasifik. Investasi ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan Sailun di kawasan,” ujarnya, Minggu (18/1).
Komitmen di Indonesia diwujudkan lewat pembangunan pabrik PT Sailun Manufacturing Indonesia di Demak dengan nilai investasi USD 251,44 juta. Fasilitas itu memproduksi ban radial kendaraan penumpang (PCR), bus dan truk (TBR), serta ban alat berat atau off the road (OTR).
Pada tahap awal, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 3,6 juta ban PCR, 600 ribu ban TBR, dan 37 ribu ton ban OTR per tahun. Tak sekadar pusat produksi, Sailun Indonesia juga dikembangkan sebagai hub distribusi dan layanan purna jual nasional. Melalui PT Sailun Tire Indonesia dan mitra lokal, perusahaan membangun jaringan distribusi terintegrasi agar produk dan layanan menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
“Dengan beroperasinya basis manufaktur Sailun di Indonesia, kami membangun ekosistem produk dan layanan lengkap, mulai PCR, TBR, OTR hingga tube dan flap dengan semangat Made in Indonesia,” ujar Direktur Sales & Marketing PT Sailun Tire Indonesia Eko Supriyatin.
Kurangi Impor
Pemerintah menyambut positif investasi tersebut. Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Sri Bimo Pratomo menilai kehadiran Sailun memperkuat industri ban nasional.
“Kami melihat pabrik ini sudah mampu memproduksi ban off the road. Peluangnya besar, termasuk untuk ban bus dan truk radial yang selama ini masih menjadi tantangan,” ujarnya.
Menurut Sri Bimo, Indonesia masih mengimpor ban OTR serta ban bus dan truk karena kebutuhan teknologi tinggi. Karena itu, penguatan rantai pasok bahan baku seperti karbon hitam, silika, dan butadiena menjadi penting.
“Bahan ini berasal dari industri petrokimia. Indonesia sebenarnya punya kapasitas yang cukup untuk mendukung produksi ban,” jelasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI